Top

Saatnya menebar kepedulian pada gambut Kubu Raya lewat edukasi di usia dini

Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Sebuah ungkapan untuk tidak menyia-nyiakan waktu dalam berbuat kebaikan yang membawa manfaat untuk kita maupun untuk orang banyak. Dalam hidup, kita selalu dihadapkan pada berbagai tantangan, yang harus kita hadapi. Begitu juga dengan perhatian dan welas kasih kita terhadap lingkungan sekitar, dimana hidup kita bergantung.  Usia dini adalah masa yang penting untuk membekali anak dengan pengetahuan tentang hal tersebut. Usia ini optimal untuk menanamkan kesadaran dan kepedulian untuk melestarikan lingkungan dan ekosistem. Oleh karenanya, mengenalkan lingkungan sekitar, termasuk didalamnya lahan gambut adalah salah satu hal penting yang perlu ditanamkan pada berbagai kalangan masyarakat baik usia dewasa atau anak-anak.

Provinsi Kalimantan Barat adalah salah satu provinsi yang kerap kali dihadapkan pada permasalahan penanganan lahan dan hutan. Permasalahan tersebut meliputi kebakaran hutan dan lahan termasuk yang ada di lahan gambut, erosi lahan, deforestasi, dan sebagainya.  Permasalahan tersebut mau tidak mau mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat, baik yang berada di sekitar kawasan maupun di luar kawasan hutan. Permasalahan tersebut bertambah kompleks dengan adanya keragaman faktor penyebab, termasuk didalamnya budaya dan kebiasaan budidaya pertanian dan pembukaan lahan.

Sejalan dengan itu, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Kubu Rayasebagai bagian dari Provinsi Kalimantan Barat bersama Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dan ICRAF-Indonesia berinisiatif untuk menginisiasi pendidikan tentang gambut dan lingkungan dengan menjajaki adanya muatan pembelajaran berbasis materi lokal melalui berbagai metode pembelajaran yang sesuai dengan konteks Kubu Raya.

Dalam lokakarya “Peningkatan Kapasitas dan Pengarusutamaan Kurikulum Pendidikan lingkungan (Gambut) Sebagai Materi Muatan Lokal di Kabupaten Kubu Raya”, tanggal 8-9 November 2021 yang lalu, bertujuan untuk membangun kesamaan persepsi pemangku kepentingan terkait edukasi gambut dan lingkungan. Sebagai bagian dari kegiatan lokakarya, dikumpulkan berbagai ide, saran dan masukan terkait proses penyusunan kurikulum dan bahan ajar gambut bagi generasi muda di Kubu Raya. Muatan lokal sebagai instrumen edukatif diusulkan menjadi pilihan. Saat ini kurikulum muatan lokal di Kubu Raya belum memasukkan pendidikan lingkungan khususnya yang terkait dengan perlindungan dan pengelolaan gambut.  Hal ini perlu segera dimulai dengan menerapkannya melalui muatan lokal pada pendidikan formal dengan memperhatikan berbagai kerangka regulasi yang ada. Lewat kegiatan ini diharapkan terbangun dukungan dari instansi terkait, yang kemudian dituangkan ke terbentuknya tim penyusunan draft kurikulum dan bahan ajar pendidikan gambut dan mangrove di Kabupaten Kubu Raya. ICRAF sebagai mitra Kabupaten Kubu Raya menempatkan bahwa kegiatan bersama para pihak ini merupakan rangkaian kegiatan yang dijalankan untuk mendukung #PahlawanGambut dalam program Peat-IMPACTS Indonesia dengan dukungan dana dari BMU-IKI. Proyek ini berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), khususnya TPB-13 (Aksi Iklim) dan TPB-15 (Kehidupan Darat).

Dr. Sonya Dewi, Direktur ICRAF Indonesia, dalam sambutannya mengatakan “ICRAF mempunyai mandat untuk melaksanakan kegiatan riset terkait pengelolaan lanskap dan ilmu pengetahuan agar dapat dipakai dan dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat di tingkat lokal, regional, global. Proyek Peat-IMPACTS memfokuskan diri di lahan gambut, dengan mengetengahkan peningkatan kapasitas para pemangku kepentingan dalam mengelola lahan gambut di Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Kubu Raya. Dalam kita mengelola kawasan tentunya diperlukan adanya pemahaman bersama, kawasan hidrologis gambut seperti apa, fungsinya apa, ekosistemnya seperti apa. Hal ini perlu dilakukan pemahaman diawal baik jangka pendek, jangka tengah maupun jangka panjang”.

Beliau juga menambahkan, lokakarya ini penting untuk menyasar generasi muda yang keterlibatannya akan dilakukan hari ini, dan dampaknya dirasakan di masa depan nanti. Generasi muda adalah bagian dari staheholder yang sangat penting untuk memahami muatan lokal untuk menyasar pemanfaatan tata kelola ekosistem gambut dan mangrove dan berperan dalam inisiatif ditingkat global.

“Hal ini bisa berdampak pada kesempatan perbaikan ekonomi bagi generasi muda dengan mengisi kebutuhan tenaga kerja di masa depan yang saat ini sering disebut sebagai “Green Jobs”, ujar Sonya.

Pada akhirnya Dr Sonya Dewi menyampaikan: “Kami menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh dari Bapak Bupati Kubu Raya untuk mempersiapkan Kabupaten Kubu Raya sejak dini dalam mengarusutamakan pengetahuan tentang gambut dan mangrove.  Kami sampaikan juga apresiasi juga kepada Kepala Dinas Pendidikan yang mampu mendorong apa yang kita pelajari dan dihasilkan nanti, untuk direplikasi ke daerah-daerah lain, juga ke provinsi lain lewat BRGM.” Inisiasi kegiatan ini disambut baik oleh Dr. Ir. Suwignya Utama, MBA., Kepala Kelompok Kerja Edukasi dan Sosialisasi BRGM, yang menyampaikan beberapa program yang telah dan sedang dilakukan oleh BRGM. “Seperti yang telah kita ketahui bersama, BRGM mempunyai pendekatan 3R, kami juga mempunyai program penguatan kelembagaan masyarakat dengan membangun desa-desa mandiri peduli gambut dan mangrove, dengan menggandeng pihak desa untuk pemeliharaan fungsi lingkungan dan sosialisasi edukasi. Sehingga masyarakat bisa memahami pentingnya melindungi gambut dan mangrove.”

“Tentunya BRGM dan ICRAF sudah sejalan dan membuka kolaborasi untuk mendorong aspek edukasi ini agar dapat masuk ke aspek pendidikan di Kabupaten Kubu Raya, yang tentunya diinisiasi melalui lokakarya pada hari ini. Kita perlu tingkatkan kesadaran dan membangun sikap positif generasi muda untuk membangun perilaku menjaga lingkungan (gambut dan mangrove). Aspek generasi muda perlu kita kawal dan kita dorong sejak awal, dan tentunya masuk ke dalam kurikulumnya,” ujar beliau.

Saatnya menanjak untuk gambut Kubu Raya

Bupati Kubu Raya, H. Muda Mahendrawan S.H., M.Kn., dalam sambutannya menyampaikan “Masyarakat Kabupaten Kubu Raya sebetulnya sudah “terkepung” dengan gambut. Para pendidik pun sudah cukup paham mengenai hal ini, utamanya bagi mereka yang tinggal di lahan gambut. Gambut pun sudah menjadi bagian dari hidup kita. Kegiatan ini juga mendapatkan dukungan dari Badan Restorasi Gambut dan Mangrove/BRGM. “M” disini juga berarti “Menanjak” ya Bapak/Ibu, supaya kita dapat melihat hal-hal penting dari perspektif yang lebih luas. Sehingga kebijakan dan kebajikan bisa kita teropong secara langsung dan sasaran pengarusutamaan akan lebih terarah, khususnya untuk pengarusutamaan edukasi ini ke tingkat TK, SD, dan selanjutnya.”

Langkah kongkrit untuk rehabilitasi dan konservasi akan kita harapkan dari para generasi muda kita yang tertanam dalam pikiran mereka “mangrove adalah masa depan”. Sebagai sumber pangan, peradaban unggul, dan sumber kekuatan yang ada di desa-desa. Melihat literasi gambut dan mangrove menjadi langkah-langkah kreatif dan mengandung solusi. Untuk menciptakan berbagai peluang termasuk ekowisata, wisata desa, dan menyangkut komoditi-komoditinya, jahe kelapa, kopi, pinang, dari sungai juga, sehingga dapat terawat dan terkelola dgn baik. Tegas Pak Bupati.

Kami semua merespon cepat keterlibatan ICRAF dan BRGM untuk bisa ikut bersama-sama di Kubu Raya, memperkuat semua aspek lingkungand an gambut yang akan menjadi unsur pendidikan. Hasil riset, verifikasi dan inventarisasi, termasuk best practice melalui Taman Baca, Rumah Baca, akan terus kita perkuat dengan menggandeng Lembaga-lembaga non-formal. Kesetaraan gender, budaya perempuan sangat signifikan untuk memperkaya literasi terkait gambut dan mangrove. Harapan besar ini disampaikan Pak Muda Hendrawan, sekaligus membuka lokakarya ini.

Pemahaman lebih lanjut mengenai gambut dan mangrove dipaparkan pada sesi paparan materi. Terdapat empat materi utama yang disampaikan secara rinci oleh Drs. Sugeng Hariadi, M.M., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat, mengenai “Pentingnya Penguatan Karakter dalam Muatan Lokal (Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan)”. Beliau menjelaskan mengenai pentingnya tujuan kegiatan ini, selain memperkenalkan peserta didik kepada lingkungannya, juga sebagai penguatan pembangunan karakter peserta didik, sehingga dapat menjadi bekal kemampuan dan ketrampilan untuk penghidupan dimasa depan. Bahkan juga mungkin untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Penguatan ini bukan hanya dari kita ke anak-anak, namun anak-anak juga bisa mengingatkan kepada kita semua, sebagai orang tuanya, para pendidiknya serta masyarakat yang lebih luas. “Kami mendukung lokakarya ini untuk memberi pemahaman lanjutan kepada masyarakat terutama anak-anak agar menyadari betapa pentingnya mengelola dan melestarikan lingkungan. Harapannya gambut dan mangrove akan semakin lestari, saling menjaga dengan tetap mengambil manfaatnya”, tambah Drs. Sugeng Hariadi.

Pemaparan dilanjutkan oleh Roby Royana, S.Hut, M.Si., Tenaga Ahli Kelompok Kerja Kerjasama, Hukum dan Hubungan Masyarakat BRGM, yang menyampaikan materi tentang “Membedah Fungsi dan Peran Penting Gambut dan Mangrove bagi Kehidupan dan Penghidupan”. Materi tentang “Kondisi terkini Gambut dan Mangrove dan Pentingnya Muatan Lokal”disampaikan oleh Prof. DR. Dwi Astiani, Guru Besar Manajemen Kehutanan Fakultas Kehutanan, Universitas Tanjungpura. Materi terakhir pada hari pertama lokakarya ini disampaikan oleh Sri Nugroho Jati, M.Psi., Psikolog, Universitas Muhammadiyah Pontianak yang menyampaikan materi tentang “Materi Pendidikan Dasar Lingkungan dalam Perspektif Psikologi Pendidikan”.

Peserta lokakarya yang hadir berasal dari Pemerintah Kabupaten Kubu Raya dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, diantaranya: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat dan Kabupaten Kubu Raya, Bappeda Provinsi Kalbar dan Kab. Kubu Raya, Dewan Pendidikan Kab. Kubu Raya, pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, akademisi mitra pembangunan, CSO dan media. Pertemuan ini juga dihadiri secara langsung oleh Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM).

Menanam Bersama Benih Cinta Lingkungan, DAS dan Gambut Sejak Usia Dini Lewat Muatan Lokal Pelajaran Sekolah

Tak kenal maka tak sayang, pepatah ini kerap kali diperdengarkan pada percakapan sehari-hari, untuk menyatakan apabila kita tidak mengenal seseorang atau sesuatu, maka kita tidak memiliki perhatian kepada orang atau hal tersebut. Bagi kita orang Indonesia perlu diakui, bahwa setiap pepatah pasti ada maknanya dan biasanya mengacu pada kata bijak yang bertemakan kehidupan. Dan berbicara mengenai kehidupan, kita harus mengenal lingkungan tempat dimana kita tinggal, karena kesejahteraan kehidupan kita bergantung kepada lingkungan dimana kita berada.

Mengenalkan lingkungan sekitar, termasuk didalamnya Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Gambut adalah salah satu hal penting untuk kita tanamkan kepada semua kalangan masyarakat baik usia dewasa atau anak-anak. Provinsi Sumatera Selatan merupakan salah satu provinsi yang memiliki area gambut yang luas di Indonesia. Provinsi ini kerap kali dihadapkan pada permasalahan lingkungan dan ekosistem, seperti kebakaran hutan dan lahan, yang sebagian terjadi di lahan gambut. Selain itu permasalahan degradasi DAS yang disebabkan oleh erosi, alih guna lahan, budidaya pertanian yang tidak ramah lingkungan, juga membawa pengaruh besar untuk Sumatera Selatan.

Untuk itu Forum DAS Sumatera Selatan bekerjasama dengan ICRAF Indonesia, Dinas Pendidikan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), dan didukung oleh Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan  menginisiasi penyusunan kurikulum pendidikan tentang DAS dan Gambut. Sebagai langkah awal, diselenggarakan Lokakarya Peningkatan Kapasitas dan Pengarusutamaan Kurikulum Pendidikan Lingkungan (DAS dan Gambut), Sebagai Materi Muatan Lokal bagi Siswa Sekolah Dasar. Diselenggarakan selama dua hari, 14-15 Oktober 2021, di Wyndham Hotel Palembang, secara luring dan daring. Kegiatan Lokakarya ini merupakan lanjutan dari kegiatan yang sama yang telah dan dalam pelaksanaan di Kabupaten Banyuasin, beberapa waktu yang lalu.

Usia dini adalah masa yang penting untuk membekali anak dengan pengetahuan dan pembinaan untuk mengembangkan potensi mereka. Usia ini juga optimal dalam menanamkan kesadaran, kepedulian dan membentuk hal-hal positif tentang berbagai hal terkait. Khususnya sikap dan perilaku yang tepat untuk melestarikan lingkungan dan ekosistem. Menumbuhkan pemahaman dan kesadaran tentang DAS dan lahan gambut, perlu dilakukan sejak awal, melalui pendidikan formal di tingkat Sekolah Dasar (SD).

Peserta lokakarya yang hadir berasal dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten OKI, koordinator wilayah, pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, mitra pembangunan, CSO dan media. Bertujuan untuk menyamakan persepsi para pihak tentang program edukasi lingkungan melalui proses penguatan kapasitas dan pengumpulan saran dan ide terkait materi pendidikan DAS dan lahan gambut. Sasarannya adalah membangun kurikulum dan bahan ajar DAS dan gambut yang dapat diintegrasikan kedalam muatan lokal pendidikan di tingkat SD (kelas 4, 5 dan 6).

Dr. Syafrul Yunardy, S.Hut., M.E., selaku Ketua Forum Koordinasi Pengelolaan DAS Sumatera Selatan, dalam sambutannya mengatakan “Kegiatan lokakarya ini untuk membantu percepatan pencapaian visi dan misi Bapak Gubernur Sumsel terkait Sumsel bebas asap; dan mengapa kegiatan terkait lingkungan (DAS dan Gambut) ini salah satunya dilaksanakan di Kabupaten Ogan Komering Ilir? Ini dikarenakan lahan gambut terluas berada di Kabupaten OKI, yang juga memiliki cukup banyak anak-anak sungai dan Sub DAS. Tentunya ada korelasi yang erat dengan masalah ekonomi, sosial, budaya serta penghidupan dan kehidupan masyarakat Kabupaten OKI.”

Tujuan lain pun disampaikan Dr. Syafrul bahwa mengarusutamakan topik-topik lingkungan hidup khususnya DAS dan gambut sesuai dengan kondisi lokal Kabupaten OKI agar menjadi perhatian mulai dari tingkat yang paling bawah dengan masuk di dalam kurikulum pendidikan, sehingga anak-anak akan paham apa peran DAS dan gambut di OKI. Adalah mimpi bersama bahwa anak-anak dapat berperan aktif terlibat dalam menjaga lingkungan di masa depan. Beliau pun menginformasikan bahwa kegiatan yang sama telah dan sedang dilakukan di Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.

Inisiasi kegiatan ini disambut baik oleh Direktur ICRAF Indonesia, Dr Sonya Dewi yang pada kesempatan ini diwakili oleh Feri Johana selaku Koordinator Proyek Peat-IMPACTS, ICRAF Indonesia. Feri Johana menjelaskan bahwa ICRAF Indonesia ikut berperan aktif dan mendukung inisiatif ini dengan bekerjasama secara erat dengan Forum DAS dan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten serta Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten, khususnya Kabupaten OKI dan Banyuasin untuk mendorong pengelolan gambut berkelanjutan di Provinsi Sumatera Selatan.

“Kegiatan ini terkait penguatan kapasitas dan pengarusutamaan di tingkat Sekolah Dasar di Kabupaten OKI. Aspek terpenting terkait tata kelola adalah mendesain aspek Pendidikan di Dalam pengelolaan program, agar dapat menjadi investasi jangka panjang yang jelas keberlanjutannya.” ujar beliau.

Feri Johana pun berharap akan banyak generasi penerus di Sumatera Selatan yang dapat membawa perubahan kedepan. Generasi penerus ini perlu diwarisi dengan pemahaman dan pengetahuan yang relevan sebagai pemegang tongkat estafet pembangunan dimasa depan Provinsi Sumatera Selatan.

  1. Husin S.Pd. MM. M.Pd., selaku Sekretaris Daerah Kabupaten Ogan Komering Ilir, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Pemda Kabupaten OKI berterima kasih telah ditunjuk sebagai salah satu pilot project dan mendukung kegiatan ini; karena lingkungan merupakan isu global dan nasional, sehingga sangat tepat jika masalah lingkungan ini dijadikan salah satu kebijakan muatan kurikulum lokal pendidikan di Kabupaten OKI.

“Dengan adanya kurikulum tentang lingkungan, kita setidaknya memberi pemahaman mengenai upaya untuk memperhatikan dan memelihara lingkungan, dengan aksi peduli lingkungan yang dapat melibatkan siswa, mahasiswa, bahkan para pemuka,” kata Pak Husin.

Semoga hasil kegiatan ini dapat menjadi referensi bagi daerah lain maupun di lingkup nasional, serta dapat berdampak luar biasa yang mempunyai nilai tambah bagi kehidupan masyarakat di Kab. OKI, sehingga karhutla dan banjir dapat terminimalisir ketika DAS dan Gambut dapat terpelihara dengan baik. Harapan besar Pak Husin sekaligus membuka lokakarya ini.

Pemahaman lebih lanjut mengenai DAS dan Gambut dipaparkan pada sesi paparan materi. Yang pertama disampaikan secara rinci oleh Andree Ekadinata S.hut., M.Si., Koordinator Tim Paket Kerja 6-Pengelolaan Pengetahuan, Peat IMPACTS, ICRAF Indonesia, mengenai “Membedah Fungsi dan Peran Penting Gambut bagi Kehidupan dan Penghidupan”. Menjelaskan apa itu gambut dan fungsinya, degradasi gambut, memulihkan gambut, dan mengelola gambut untuk tidak rusak lagi, sekaligus menumbuhkan pemahaman dan kecintaan terhadap gambut.

“Restorasi gambut adalah proses panjang untuk mengembalikan fungsi ekologi lahan gambut dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang terkena dampak dari lahan gambut yang terdegradasi.” tegas Andree.

Beliau juga mengajak seluruh peserta lokakarya untuk menjadi #PahlawanGambut, dengan berpartisipasi memberikan ide dan pemikiran untuk menterjemahkan pengetahuan teknis gambut menjadi bahan ajar yang bisa digunakan di berbagai jenjang pendidikan; ikut serta membangun kurikulum Pendidikan dan bahan ajar, serta menguji dan mencoba kurikulum dan bahan ajar tersebut agar dapat memberikan evaluasi konstruktif untuk perbaikan-perbaikan di masa depan.

Selanjutnya paparan mengenai “Membedah Fungsi dan Peran Penting DAS bagi Kehidupan dan Penghidupan”, yang disampaikan oleh Dr. Sulthani Azis, M.Sc., Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Musi.

Beliau menjelaskan bahwa DAS terdiri dari tiga kesatuan, yaitu bentanglahan, hidrologi dan ekosistem. Ekosistem DAS di wilayah hilir merupakan zona pemanfaatan sumberdaya dengan kerapatan drainase kecil dan bentanglahannya berupa dataran yang berpotensi banjir/tergenang. Dengan pola irigasi dominan dan jenis-jenis vegetasi yang dominan pertanian dan lahan gambut.

“Anak didik kita harus bisa mengetahui manfaat bentanglahan agar dapat mengelola lahan tempat tinggal mereka untuk penghidupan dimasa datang. Karena pada dasarnya manusia adalah agen pengelola lingkungan yang perlu ditanamkan mengenai dasar pemahaman ekosistem DAS dan Gambut. Mengapa, manfaat serta dampak dari pemeliharaan lingkungan, generasi muda perlu terlibat aktif dalam kampanye pelestarian lingkungan di era digital saat ini,” jelas Dr Azis.

Penyampaian kedua materi tersebut dimoderatori oleh Wakil ketua Forum Koordinasi Pengelolaan DAS, Dr. Ir. Karlin Agustina, MSi., yang mengantarkan peserta lokakarya kepada diskusi yang lebih mendalam, mengenai upaya penyusunan kurikulum muatan lokal Pendidikan lingkungan DAS dan Gambut di Kabupaten Ogan Komering Ilir, yang akan dilakukan selama dua hari ini.

Lewat kegiatan ini diharapkan tercipta dukungan dari instansi terkait dan terbentuknya tim gugus tugas penyusunan draft kurikulum dan bahan ajar pendidikan lingkungan, DAS dan gambut Kabupaten OKI. Dengan begitu generasi muda Sumatera Selatan akan memiliki fondasi untuk menjaga lingkungannya secara berkelanjutan dari berbagai faktor penyebab kerusakan lingkungan.

Memupuk Cinta Lingkungan, DAS dan Gambut Sejak Usia Dini

Usia dini adalah masa yang penting untuk membekali anak dengan pengetahuan dan pembinaan untuk mengembangkan potensi mereka. Usia ini juga optimal dalam menanamkan kesadaran, kepedulian dan membentuk hal-hal positif tentang berbagai hal terkait. Khususnya sikap dan perilaku yang tepat untuk melestarikan lingkungan dan ekosistem.

Provinsi Sumatera Selatan, kerap kali dihadapkan pada permasalahan lingkungan dan ekosistem. Seperti kebakaran hutan dan lahan, yang sebagian terjadi di lahan gambut. Selain itu permasalahan degradasi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang disebabkan oleh erosi, alih guna lahan, budidaya pertanian yang tidak ramah lingkungan, juga membawa pengaruh besar untuk Sumatera Selatan.

Menumbuhkan pemahaman dan kesadaran tentang DAS dan lahan gambut, perlu dilakukan sejak awal, melalui pendidikan formal di tingkat Sekolah Dasar (SD). Karenanya, Forum DAS Sumatera Selatan bekerjasama dengan ICRAF Indonesia, didukung oleh Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan dan Kabupaten Banyuasin, menginisiasi penyusunan kurikulum pendidikan tentang DAS dan Gambut. Sebagai langkah awal, diselenggarakan Lokakarya Peningkatan Kapasitas dan Pengarusutamaan Kurikulum Pendidikan Lingkungan (DAS dan Gambut), Sebagai Materi Muatan Lokal bagi Siswa Sekolah Dasar. Diselenggarakan selama dua hari, 23-24 September 2021, di Beston Hotel Palembang, secara luring dan daring.

Peserta lokakarya yang hadir berasal dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Banyuasin, koordinator wilayah, pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, mitra pembangunan, CSO dan media. Bertujuan untuk menyamakan persepsi para pihak tentang program edukasi lingkungan melalui proses penguatan kapasitas dan pengumpulan saran dan ide terkait materi pendidikan DAS dan lahan gambut. Sasarannya adalah membangun kurikulum dan bahan ajar DAS dan gambut yang dapat diintegrasikan kedalam muatan lokal pendidikan di tingkat SD (kelas 4, 5 dan 6).

Dr. Syafrul Yunardy, S.Hut., M.E., selaku Ketua Forum Koordinasi Pengelolaan DAS Provinsi Sumatera Selatan, dalam sambutannya mengatakan “Kegiatan lokakarya ini untuk membantu percepatan pencapaian visi dan misi Bapak Gubernur Sumsel terkait Sumsel bebas asap; dan mengapa salah satunya terkait Daerah Aliran Sungai (DAS), dikarenakan melalui DAS kita dapat memitigasi bencana banjir, erosi dan kekeringan di lahan gambut.”

Tujuan lain pun disampaikan Dr. Syafrul bahwa pendidikan dan pengetahuan perlu digagas melalui muatan lokal sedari dini kepada siswa dan siswi Sekolah Dasar, sehingga mereka dapat juga berperan aktif terlibat dalam menjaga lingkungan.

Hal ini pun disambut baik oleh Direktur ICRAF Indonesia, Dr. Sonya Dewi yang menjelaskan bahwa ICRAF Indonesia ikut berperan aktif dan mendukung inisiatif ini dengan bekerjasama secara erat dengan Forum DAS dan tentunya Pemerintah Provinsi dan Kabupaten serta Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten, khususnya Banyuasin.

“Kalau kita mulai Pendidikan sejak dini, mereka para siswa dan siswi akan lebih cepat menyerap pengetahuan dan mempunyai dasar ilmu yang cukup baik untuk melakukan aksi yang cocok untuk daerahnya. Bahkan bisa saja mereka akan menularkan ilmu yang mereka dapat ke orang tuanya” ujar Dr. Sonya.

Dr Sonya pun berharap kurikulum dan bahan ajar yang akan disusun nanti bisa masuk kedalam muatan lokal, dan semoga Kabupaten Banyuasin sebagai kabupaten pertama yang menjadi pelopor kegiatan ini dapat menjadi contoh, agar bisa diterapkan juga di kabupaten-kabupaten lain yang mempunyai lahan gambut yang cukup significant.

Kegiatan Lokakarya Forum DAS Sumatera Selatan yang bekerjasama dengan ICRAF Indonesia ini pun mendapat dukungan penuh dari Drs. Riza Fahlevi, M.M., Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan serta Aminuddin, S.Pd., SIP., M.M., selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin.

“Apresiasi kepada Forum DAS dan ICRAF Indonesia yang telah mengawali langkah besar ini, dan memilih usia SD untuk pengembangan muatan local lingkungan, DAS dan gambut ini. Pendidikan merupakan investasi yang sangat besar untuk keberlanjutan kualitas penghidupan di masa depan. Tidak hanya di Kabupaten Banyuasin, tapi juga di seluruh 17 Kabupaten lainnya” kata Pak Riza Fahlevi dalam sambutanya sekaligus membuka lokakarya ini.

Dinas Pendidikan provinsi dan kabupaten tentu saja mengutamakan pendidikan, khususnya pengembangan kurikulum dan bahan ajar. Dua hari lokakarya ini perlu dijalankan dengan baik, agar terwujudnya Sumsel bebas asap dan melalui pendidikan akan terciptanya Sumsel tangguh, tegar dan terdepan, tegas Riza Fahlevi.

Beliau pun berharap dengan hadirnya ICRAF, maka inisiasi ini perlu dilakukan secara berkelanjutan, agar I = Ide dan inisiatif, menyumbangkan ide dan inisiatif dalam kegiatan lokakarya dan bersama-sama terlibat dalam pengembangan penyusunannya nanti; C = Chemistry, hubungan kedekatan secara kebatinan bersama, yaitu one team, one vision dan one goal; R = Reading, tetap membaca agar kualitas ilmu lokal dapat diandalkan; A = Aplikasi, memanfaatkan dan menguasai aplikasi dan teknologi yang ada sekarang; dan F = fokus, terus fokus agar hasilnya fantastis.

Paparan materi pertama disampaikan oleh Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengendalian DAS Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Dr. Saparis Soedarjanto, S.Si., M.T. mengenai “Membedah Fungsi dan Peran Penting DAS bagi Kehidupan dan Penghidupan”, yang menjelaskan bahwa ekosistem DAS merupakan bentang alam dan bentang kelembagaan yang kompleks. Pengelolaan DAS identik dengan permainan orkestra musik. Terciptanya harmonisasi dalam pengelolaan DAS diperlukan koordinasi, integrasi, sinkronisasi, dan sinergi antar multi pihak dalam mencapai tujuan pengelolaan DAS.

Andree Ekadinata, S.Hut., M.Si., Koordinator Tim Paket Kerja 6-Pengelolaan Pengetahuan, Peat IMPACTS, ICRAF Indonesia, yang juga berkesempatan menyampaikan paparannya mengenai “Membedah Fungsi dan Peran Penting Gambut bagi Kehidupan dan Penghidupan”. Menjelaskan apa itu gambut dan fungsinya, degradasi gambut, memulihkan gambut, dan mengelola gambut untuk tidak rusak lagi, sekaligus menumbuhkan pemahaman dan kecintaan terhadap gambut.

Andree juga menjelaskan mengenai apa itu restorasi gambut. “Restorasi gambut adalah proses Panjang untuk mengembalikan fungsi ekologi lahan gambut dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang terkena dampak dari lahan gambut yang terdegradasi.” ujarnya.

Penyampaian kedua materi tersebut dimoderatori oleh Wakil ketua Forum DAS, Dr. Ir. Karlin Agustina, M.Si., yang mengantarkan peserta lokakarya kepada diskusi yang lebih mendalam, mengenai upaya penyusunan kurikulum muatan lokal Pendidikan lingkungan DAS dan Gambut di Kabupaten Banyuasin, yang akan dilakukan selama dua hari ini.

Lewat acara ini diharapkan tercipta dukungan dari instansi terkait dan terbentuknya tim gugus tugas penyusunan draft kurikulum dan bahan ajar pendidikan lingkungan, DAS dan gambut Kabupaten Banyuasin. Dengan begitu generasi muda Sumatera Selatan akan memiliki fondasi untuk menjaga lingkungannya secara berkelanjutan dari berbagai faktor penyebab kerusakan lingkungan.

Becoming Peatland Heroes: The Perspectives of 55 Young Researchers in West Kalimantan in Building Synergy for Sustainable Peatland Management

Enthusiasm and interest were clearly apparent when ICRAF, through Peat-IMPACTS Indonesia, initiated the Young Peat Researcher Incubator or Inkubator Peneliti Muda Gambut (IPMG) programme in West Kalimantan province.

The IPMG-West Kalimantan Chapter involved 31 female and 24 male graduates from various universities in West Kalimantan who participated in the programme, which ran from February to July 2021.

Good collaboration was established with the West Kalimantan Provincial Government and Kubu Raya District Government, where IPMG activities took place. Lecturers from universities in West Kalimantan shared their enthusiasm by promoting and selecting the best candidates to join the programme.

Head of the West Kalimantan Provincial Public Housing and Settlements Office, Ir. H. Adi Yani, MH, expressed his hope that, “the Young Peat Researcher Incubator programme can stimulate the youth in West Kalimantan through research activities relating to peat. We hope that a sustainable peatland management system can be established through a proper knowledge management system”.

Before going to the field, young researchers were prepared through a series of training sessions covering many competencies on the ‘Approach to Livelihoods and Landscape Improvement and Resilience’ (ALLIR). The expectation was that the IPMG programme would collect data through engagement with peat farmers and communities to uncover intervention options for sustainable peatland management in West Kalimantan. Field activities lasted for approximately four months in 31 villages in the Kapuas–Ambawang River and Terentang–Kapuas River Peat Hydrological Units (PHUs).

Once field activities had been completed, the 55 young researchers conducted a series of knowledge dissemination sessions for sharing information and experiences. A provincial seminar was held on their experiences in peatland research, with topics including land use in peat ecosystems, gender equality, strategic commodities, best agricultural practices, community livelihoods and farming patterns from an economic perspective. The expectation was for the seminar to provide fresh information and considerations for policymakers in West Kalimantan.

A media gathering was held with more than 20 journalists to attract media attention to social, economic and environmental issues relating to peatlands in West Kalimantan. This was followed by a campus tour to the top three universities in West Kalimantan to share experiences and knowledge with the academic community.

A focus group discussion with a women’s farmer group in Korek village, Kubu Raya district
A focus group discussion with a women’s farmer group in Korek village, Kubu Raya district

The last most important event was a provincial public dialogue with important leaders and policymakers from the national, provincial and district levels on livelihood problems in peatlands and possible solutions. All of these events were based on the valuable experiences of the 55 young researchers through Peat-IMPACTS Indonesia.

During the public dialogue, ICRAF Indonesia Country Director, Dr. Sonya Dewi, relayed an important message on the importance of partnerships between the government and the private sector. As livelihood issues differ from one village to another, despite being in the same province, context-specific livelihood options need to be developed to solve the challenge of managing peatlands sustainably. Sonya Dewi also praised the IPMG programme as an example of how landscape management can involve the young generation as part of the solution.

Discussion with farmer group members in Sungai Terus village, Kubu Raya district, on improving access to Five Livelihood Capitals topic, which developed rice cultivation with a direct seed planting system (tabela)
Discussion with farmer group members in Sungai Terus village, Kubu Raya district, on improving access to Five Livelihood Capitals topic, which developed rice cultivation with a direct seed planting system (tabela)

50 young people of #PahlawanGambut South Sumatra ready for the Sustainable peatland management, present and future

Through the Peat-IMPACTS Indonesia program, World Agroforestry (ICRAF) started an initiative called #PahlawanGambut. #PahlawanGambut is the branding activity to gather knowledge, learning, understanding, and various ideas related to sustainable peat management by activists, researchers, business actors, farmers and the young generation in South Sumatra and West Kalimantan. This collection of knowledge will then be used to jointly strengthen governance and stakeholder capacity in Indonesia’s peatlands.

One of the #PahlawanGambut activities is the South Sumatra Junior Peat Research Incubator Program (IPMG), which started from October 2020 to February 2021, in 32 villages in Ogan Komering Ilir and Banyuasin Districts. This program has invited 50 of 25 young women and 25 man graduates from tertiary institutions in South Sumatra to work for 3-4 months with ICRAF researchers, peat farmers and activists to uncover various knowledge, lessons learned and intervention options for well-manner managing sustainable peatlands in South Sumatra. The implementation of this activity went well and produced junior South Sumatra cadres who enthusiastic in peatlands and are ready to contribute in sustainable peatland management.

As the final program of 50 #PahlawanGambut Chapter-1 South Sumatra, ICRAF carried out a seminar on March 10, 2021. A collection of 40 Scientific Studies were presented based on experiences and lessons learned related to problems in peatlands, including land use in the peat ecosystem, gender equality, prime commodities and their problems, the need to strengthen community institutions, towards best agricultural practices, efforts to improve livelihoods society, and various farming patterns from an economic perspective. This compiling opinions, experiences and information that can be used as input for policymaker related to sustainable peat ecosystem management in South Sumatra.

In the opening remarks, on behalf of the Governor of South Sumatra, Ir. H Dharna Dahlan, MM, coordinator of Regional Peat Restoration Team South Sumatra said, “We gave high appreciation to ICRAF, and we are very proud of the junior Peat Researchers of South Sumatra. In future, they can work together with us to get as much information as needed.”

Follow with the Highlight event, ICRAF held “Dialogue across generations” on March 12, 2021, which was attended by expert speakers from various government institutions, academics, other invited guests and presented five IPMGs who shared interesting stories of the fieldwork in several villages in Ogan Komering Ilir and Banyuasin Districts. Budi Satyawan Wardhana, Deputy I-Planning and Work, Peatland and Mangrove Restoration Agency advised “Human basic provisions are learning, charity, and education, so we hope that junior peat researchers can learn to gain the level of thinking to contribute ways to solve problems; so PMG capacity will increase and more visible by means of critical thinking to jointly find solutions to problems in the field.”

Another important message was conveyed by Dr. Sonya Dewi, ICRAF Indonesia Country Coordinator, “Partnership support, mentoring, counselling between the government and the private sector are also urgently needed. The problems context in each village visited was different and several options for problem-solving interventions are needed depending on the problems that occur in each village. Sonya Dewi also emphasized that PMG is a best-graduated researcher who can be invited to become prospective researchers for government institutions related to the peat sector, whose concern and enthusiastic for peat in South Sumatra.”

The hope is that all parties can contribute actively to activities related to restoration, implementation of various environmental services, development of suitable paludiculture on peatlands and special approaches to improve the function of peat for the people of South Sumatra, Indonesia and for all of us.