Top

Semangat siswa SMPN 12 Sungai Raya lakukan uji coba kurikulum muatan lokal gambut dan mangrove di Kabupaten Kubu Raya

Sungai Raya lokasi di mana SMP Negeri 12 ini terpilih menjadi salah satu sekolah menengah pertama unuk dilaksanakannya uji coba kurikulum mutan lokal gambut dan mangrove yang telah Penyusunan dan pengembangannya telah disusun beberapa waktu lalu bersama Tim Penyusun dan Pengembang yang berkomitmen tinggi, kreatif dan inovatif secara partisipatif.

H Saknawi Spd, Kepala Sekolah dalam sambutannya menyatakan rasa bangga telah menjadi salah satu sekolah percontohan untuk uji coba pelaksanaan kurikulum. Sebagai tindak lanjut, implementasi berupa praktik-praktik penanaman akan dilakukan sejalan dengan materi kurikulum pelestarian gambut dan mangrove. Diantaranya tanaman nanas dan apotik hidup. SMPN 12 juga memiliki lahan seluas 0,5 hektar, dan akan segera bergandengan tangan bersama Pak Kepala Desa dalam pengurusan kepemilikan tanah SMPN 12 ini.

“Harapan kami, kedepannya lahan ini akan menjadi lahan uji coba praktek kurikulum mulok yang akan dimanfaatkan untuk menanam berbagai tanaman yang dapat tumbuh di lahan gambut, seperi nanas, tanaman apotik hidup, pohon buah-buahan, dll. Sehingga pembelajaran ini tidak hanya berhenti sampai di siswa saja, namun mereka pun bisa menularkan informasi dna pengetahuan yang didapat kepada orang tua mereka. Agar lahan gambut bisa kita hindari dari kekeringan dan kebakaran,” Kata Saknawi.

Rasa bangga juga disampaikan oleh Andree Ekadinata, perwakilan ICRAF Indonesia. Pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan akan terus dilakukan melalui program Peat-IMPACTS di Kalimantan Barat, khususnya di Kabupaten Kubu Raya. Salah satu program yang ada adalah mendukung edukasi serta pemahaman tata Kelola gambut secara berkelanjutan dimulai dari usia dini. Karya kurikulum muatan lokal gambut dan mangrove ini harapannya akan terus dikembangkan, untuk itu kritik dan saran akan terus kami harapkan melalui pengajaran kurikulum ini akan bisa mencetak pemimpin-pemimpin muda di masa depan yang mendukung pelestarian lingkungan, gambut dan mangrove.

M. Ayub, S.Pd., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kubu Raya, serta rekan-rekan Tim Pengembang turut hadir mendukung pelaksanaan uji coba ini. Salah satu tujuan selain melestarikan gambut dan mangrove juga akan terciptanya sumber daya manusia Kubu Raya di masa depan yang mampu mencintai, menggali pembelajaran tata kelolanya. Evaluasi akan

Uji coba dilakukan di 3 kelompok wilayah, yaitu di lokasi gambut, di lokasi mangrove dan di lokasi bukan gambut dan mangrove. Sehingga proses monitoring dan evaluasi akan didapatkan di seluruh Kubu Raya. Agar kita bisa mendapatkan kurikulum yang berdaya guna dan sesuai dengan kebutuhan di seluruh lokasi capaian, sehingga Kabupaten Kubu Raya dapat menjadi pelopor bagi tempat-tempat lainnya di Kalimantan Barat.

“Kegiatan ini adalah inisiatif menembus jaman dan akan akan menjadi #BukanMulokBiasa yang telah ditancapkan dalam semangat siswa-siswi yang terus berfikir dan berkontribusi untuk dunia,” Tegas H Muda Mahendrawan S.H. Bupati Kab. Kubu Raya,yang terus menyemangati para siswa dan tim pendidik. Kegiatan Mulok ini bukan hanya penanaman saja namun berupa edukasi yang ditancapkan sebagai solusi cara berfikir sekaligus bertindak bagi para generasi muda dalam bagaimana gambut bisa untuk masa depan. Kubu Raya yang menjadi sumber pangan baik sayur mayur, budidaya ternak dan ikan, akan menjadi penyeimbang bagi sektor wirausaha. Ide dan gagasan, serta rasa memiliki dan tanggung jawab harus terus tertanam pada siswa-siswi. Selain itu siswa-siswi yang ikut berkegiatan mulok ini akan menjadi penerus penyampaian informasi dan pemahanan bagi orang tua mereka, tambah beliau.

Kurikulum muatan lokal ini di uji cobakan untuk dikembangkan dan menggali potensi daerah sebagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Sekolah Dasar sehingga anak didik memiliki keunggulan yang kompetitif. Muatan lokal disajikan dalam bentuk mata pelajaran yang terintegrasi dengan Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial dan Bahasa Indonesia. Para pendidik diharapkan tidak hanya mengajarkan ilmu mengenai gambut dan mangrove ini dalam bentuk mata pelajaran, namun juga akan diimplementasikan dalam bentuk praktik di luar kelas guna memanfaatkan tanah/kebun yang terdapat di lingkungan sekolah maupun tempat tinggal para peserta didik. Sehingga siswa dapat memahami langsung tentang tanaman-tanaman apa saja yang dapat ditanam di lahan gambut.

“Kelanjutan dari pelaksanaan uji coba ini juga akan di evaluasi, dan akan menerima ide dan gagasan lain sejalan dengan kesesuaian di sekolah-sekolah uji coba. Selain itu untuk mengetahui tingkat kesiapan dan respon peserta didik dalam penerapan kurikulukm integrasi muatan lokal gambut dan mangrove untuk SMPN 12 Rasau Jaya ini,” Kata Andree.

Selain pelaksanaan uji coba di dalam kelas, ICRAF pun mengadakan permainan terkait pemahaman gambut melalui maket kondisi lahan gambut yang dipenuhi dengan tanaman dan pepohonan di gambut dan lahan yang telah terdegradadi dengan berkurangnya jumlah pepohonan. Kegiatan ini disajikan dalam kuis interaktif dengan mengajak para siswa anggota OSIS, sehingga tercipta pemahaman secara langsung.

15 sekolah yang terdiri dari sembilan Sekolah Dasar (SD) dan enam SMP (6 sekolah) di Kabupaten Kubu Raya akan menerapkan kurikulum Muatan Lokal Gambut dan Mangrove ini, dan selain di SMPN 12 Sungai Raya, Kab Kubu Raya, kegiatan ini juga di uji cobakan di tiga sekolah terpilih lainnya yaitu SMPN 5 Kubu, SDN 17 Rasau Jaya, dan SDN 4 Terentang.

Dalam Penyusunan dan pengembangan kurikulum muatan lokal Gambut dan mangrove ini, ICRAF Indonesia berkolaborasi bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kubu Raya dan didukung oleh BRGM, Blue Forest dan WWF Indonesia.

Kubu Raya, 05/09/2022

Dari kita untuk kita, bersinergi bersama untuk generasi muda sadar lingkungan gambut dan mangrove di Kubu Raya

Foto: World Agroforestry (ICRAF Indonesia)

Sekolah dan para guru memegang peranan kunci dalam keberhasilan pelaksanaan kurikulum muatan lokal pendidikan lingkungan gambut dan mangrove yang terus digodok oleh Dinas Pendidikan dan para pemangku kepentingan di sektor pendidikan dasar dan menengah pertama di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Dengan dukungan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat, World Agroforestry (ICRAF) melalui proyek Peat-IMPACTS menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis Guru Mata Pelajaran Muatan Lokal Pendidikan Lingkungan Gambut dan Mangrove, pada tanggal 2-4 Agustus 2022, dengan berkolaborasi bersama BRGM, Blue Forest dan WWF sebagai mitra acara Bimbingan Teknis ini.

Bimbingan Teknis ini bertujuan untuk memberikan motivasi dan mengajarkan kepada peserta yang terdiri dari para guru untuk menjadi Guru Muatan Lokal Pendidikan Lingkungan Gambut dan Mangrove pada mata pelajaran/kelas yang diampu-nya, serta memberikan wawasan dan pengetahuan kepada peserta tentang pemanfaatan dan pelestarian gambut dan mangrove.

Dengan melibatkan para guru yang bersemangat, kreatif dan inovatif yang mampu menciptakan kegiatan secara partisipatif. Bimbingan Teknis ini diawali dengan pemantapan materi mengenai pengenalan ekosistem gambut dan mangrove, konsep dasar kurikulum pembelajaran muatan lokal Pendidikan lingkungan hidup gambut dan mangrove, serta evaluasi muatan lokal.

“Dalam kegiatan tata kelola gambut yang terhimpun dalam program Peat-IMPACTS disebut juga dengan edukasi gambut. Melalui kegiatan ini harapannya masyarakat khususnya para siswa usia dini di tingkat SD dan SMP dapat turut berproses untuk penyadartahuan mengenai lingkungan dan ekosistem Gambut dan Mangrove. ICRAF sangat mengapresiasi atas kerja keras Ibu dan Bapak Guru yang telah tergabung dalam Tim Pengembang kurikulum muatan lokal ini, yang akan terus diperkaya dengan pengembangan dan persiapan bahan ajar, juga strategi-strategi proses belajar mengajar di seluruh tingkat sekolah terpilih”, kata Happy Hendrawan, Koordinator Provinsi Kalimantan Barat, ICRAF Indonesia.

Sambutan dari Badan restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Budiyanto, selaku Kasub Pokja Sosialisasi dan Pelatihan, mengatakan “Dalam pelestarian dan pemanfaatan gambut, kita perlu melakukan edukasi dan komunikasi kepada masyarakat luas. Salah satunya adalah kegiatan Penyusunan Kurikulum Muatan Lokal yang telah melalui rangkaian proses yang panjang. Dan kegiatan Bimbingan Teknis ini kita berkesempatan untuk bertemu dengan Tim Pengembang SD maupun SMP yang kini sudah masuk ke tahap uji coba untuk praktek mengajar. Peserta yg hadir disini adalah tim dari Sekolah terpilih yang siap untuk diuji untuk penerapan uji coba pembelajaran muatan lokal melalui simulasi mengajar.”

Kepala Dinas Dikbud Provinsi Kalimantan Barat yang diwakili oleh Kepala Bidang SMK Provinsi Kalimantan Barat, Drs. Samsuni, dalam sambutannya mengatakan “Bimbingan teknis bagi para pendidik dengan memandang dari sudut proses pendidikannya sangat bermanfaat. Kami di tingkat provinsi akan terus mendukung untuk tercapainya kegiatan mendalam untuk uji coba pemantapan materi ini.”

Foto: World Agroforestry (ICRAF Indonesia)

M. Ayub, S.Pd., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kubu Raya, dalam sambutannya menyampaikan, “Dengan semangat luar biasa dan terima kasih yang terdalam, kita hadir bersama dengan lebih dari 50 peserta, juga kepada seluruh Tim Pengembang Kurikulum Muatan Lokal (SD dan SMP) yang telah berkontribusi untuk urun pemikiran dalam perumusan kurikulum ini juga para guru SD dan SMP yang terpilih untuk ikut dalam proses uji coba pengajaran. Hadir juga para Kepala Sekolah SD (9 sekolah) dan SMP (6 sekolah) yang mewakili sekolah-sekolah terpilih yang akan di Uji Coba perumusan pengembangan kurikulum Lingkungan Gambut dan Mangrove. Diantaranya bagaimana kurikulum ini bisa dikelola dan dilaksanakan di sekolah-sekolah target.”

Foto: World Agroforestry (ICRAF Indonesia)

Sekolah-sekolah yang terpilih terbagi atas tiga kategori, yaitu yang berada di lingkungan gambut, berada di lingkungan mangrove, dan berada di bukan lingkungan gambut dan mangrove. Hal ini untuk dilakukan untuk proses kegiatan pendalaman materi maupun pengelolaan pembelajarannya pada siswa. Bagaimana kita mengetahui dan mendapatkan sisi positif gambut ini serta mengantisipasi sisi negatifnya, kata Ayub.

Untuk kedepannya akan dilakukan monitoring dan evaluasi di Sekolah SD dan SMP yang menjadi sekolah sasaran untuk uji coba pengajaran. Hal ini dilakukan dalam rangka memfinalkan apakah design kurikulum ini layak untuk kita teruskan tanpa penyempurnaan atau masih ada beberapa hal untuk penyempurnaan, dengan melibatkan beberapa mitra yang mendukung proses ini. Harapannya para siswa Sekolah sebagai generasi muda akan terus mencintai dan peduli terhadap lingkungan gambut dan mangrove bukan hanya sebagai ilmu yang diserap, namun juga dapat diterapkan secara langsung. Harapannya masyarakat yang tinggal di lingkungan gambut dan mangrove dapat menjadi potensi baik untuk penerapan kegiatan ini, agar dapat dimanfaatkan menuju masyarakat yang sejahtera dan Bahagia, tambah M. Ayub, sekaligus membuka secara resmi kegiatan Bimbingan Teknis ini.

Dua hari selanjutnya peserta akan ikut berproses dalam diskusi mendalam mengenai Perencanaan Pembelajaran Muatan Lokal (modul ajar) dan bahan ajar, serta praktek mengajar dan uji coba kurikulum. Hal ini ditujukan untuk memberikan penguatan persiapan dan keterampilan kepada guru dalam memberikan pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup Gambut dan Mangrove nantinya.

Selain di Kalimantan Barat, Peat-IMPACTS atau Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Lahan Gambut dan Kapasitas Para Pemangku Kepentingan Indonesia juga dilaksanakan di Provinsi Sumatera Selatan dan mendapat dukungan dari Pemerintah Jerman dari tahun 2020-2023. Program Peat-IMPACTS Indonesia, berfokus kepada restorasi, pengelolaan dan perlindungan gambut, sehingga secara langsung dapat berkontribusi pada komitmen negara untuk penurunan emisi rumah kaca dan target pembangunan jangka menengah tingkat nasional. Proyek ini akan berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), khususnya TPB-13 (Aksi Iklim) dan TPB-15 (Kehidupan Darat).

Kubu Raya, 02/08/2022

Petani Daya Kesuma siap menerapkan Pertanian Ramah Lingkungan melalui uji coba penanaman jagung

Jalan jalan ke Daya Kesuma
Ke pasar 16 beli ikan baung
Kolaborasi tim kerja bersama
Sukseskan program penanaman jagung

Petani Desa Daya Kesuma di Kec. Muara Sugihan, Kab. Banyuasin, Sumatera Selatan di bulan Juli 2022 kini telah siap terapkan Pertanian ramah Lingkungan melalui lahan uji coba budidaya jagung, yang akan dikelola bersama oleh masyarakat dibawah bimbingan peneliti dan para pakar, sebagai upaya model penguatan penghidupan petani berwawasan lingkungan.

Pemilihan Desa Daya Kesuma di Banyuasin ini berdasarkan pengambilan data-data yang sudah kita lakukan dan dapatkan sebelumnya, dan hasil dari data-data yang didapat ICRAF melihat beberapa kebutuhan untuk melakukan pengelolaan gambut secara lestari dan perbaikan ekonomi masyarakatnya.

Praktek penanaman secara tradisional masih kerap dilakukan para petani di Desa Daya Kesuma, khususnya praktek penanaman jagung dan padi. Diantaranya adalah aplikasi pemupukan dan penggunaan bahan-bahan pestisida dan pupuk kimia lainnya masih dilakukan dengan jumlah yang kurang tepat. Hal ini dirasa perlu bagi ICRAF untuk memutuskan bahwa Desa Daya Kesuma menjadi desa percontohan, melalui penguatan kapasitas petaninya agar dapat melakukan usaha taninya dengan baik dan benar untuk secara ramah lingkungan untuk komoditas jagung maupun padi.

Salah satu kegiatan penguatas kapasitas di bidang pertanian yang sudah mulai dilakukan adalah pembuatan pupuk organik dalam bentuk padat dan cair. Dan kegiatan budidaya penanaman jagung dan padi ramah lingkungan itu diwujud nyatakan dengan bentuk uji coba demo plot penanaman dengan menggunakan pupuk organik yang telah dibuat oleh masyarakat/petani Desa Daya Kesuma.

Uji coba penanaman ini kita lakukan secara bertahap sehingga petani dalam rangka kegiatan ini diharapkan bisa mengadopsi praktek-praktek dan pelatihan-pelatihan yang diberikan. Petani akan dapat melihat secara langsung praktek pertanian yang seperti apa yang mesti mereka aplikasikan di lahan mereka.

Bukan hanya sistem usaha tani mereka saya yang diperkuat tapi juga dari sisi pemasaran hasil produk yang telah dihasilkan dari uji coba hasil praktek pertanian ramah lingkungan yang sudah dilakukan bersama.Selain itu, akan ada penguatan kapasitan kelembagaan desa, yakni Bumdes, sehingga para petani dan Lembaga seperti bumdes disaat kegiatan ini selesai dapat berjalan bersama-sama.

Kegiatan ini diperkuat juga bersama para SKPD di tingkat Kabupaten, juga bersama para dinas-dinas. Sehingga kegiatan ini akn menjadi kolaborasi yang kuat dan sinergi dan tentunya dukungan penuh yang berkelanjutan, meskipun program Peat-IMPACTS ini telah selesai di penghujung tahun 2023.

Muara Sugihan tempat yang nyaman
Masyarakatnya penuh kebersamaan
Mari tingkatkan perekonomian
Dengan Pertanian Ramah Lingkungan

Banyuasin, 04/07/2022

Usaha Tani Jagung, mendukung Model Usaha Tani Pertanian Ramah Lingkungan di Desa Daya Kesuma, Banyuasin

Petani di desa Daya Kesuma di Kecamatan Muara Sugihan, Banyuasin, Sumatera Selatan kini memiliki lahan uji coba (demonstration plot) budidaya jagung, yang akan dikelola secara bersama oleh masyarakat dan dibawah bimbingan peneliti dan para pakar, sebagai upaya model penguatan penghidupan petani berwawasan lingkungan.

Uji coba ini merupakan buah dari proses panjang penggalian data dan penggalangan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk masyakarat desa, yang telah dilakukan sejak akhir tahun 2021. Sebelumnya, peneliti dari World Agroforestry (ICRAF) Indonesia telah menggali data di desa, mengolah dan mengembalikannya sebagai bahan diskusi dengan masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya. Kegiatan ini adalah bagian dari kerja sama antara ICRAF, melalui Peat-IMPACTS Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Banyuasin/Bappeda, Dinas pertanian dan hortikultura, dan dinas-dinas terkait lainnya.

Kegiatan yang didampingi oleh Camat Muara Sugihan, Welly Ardiansyah, serta beberapa pihak desa diantaranya, Jumali, selaku kepala Desa Daya Kesuma dan Slamet Riyadi, selaku ketua tim kerja desa, menyambut baik dan berterima kasih kepada ICRAF Indonesia, melalui Peat-IMPACTS telah memilih dua desa di Kab Banyuasin, yang telah diberikan pelatihan dan penguatan Kapasitas pengelolaan lahan tanpa bakar. Melalui 16 kelompok tani yang ada di Desa Daya Kesuma, tim desa juga diberikan pembinaan dan pelatihan tentang pupuk oranik padat dan cair guna mendorong penerapan skema Pertanian Ramah Lingkungan. Harapannya akan terwujud model usaha tani yang sesuai dengan kesepakatan dan harapan seluruh masyarakat desa. Kepala Bappeda dan Litbang Kabupaten Banyuasin Ir. Kosarodin, MM, yang dalam kesempatan ini diwakili oleh Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Edil Fitriadi, SP, MSi, mengatakan apresiasi kepada ICRAF dan mendukung penuh prakarsa kegiatan ini yang telah memperkenalkan jenis-jenis usaha tani yang secara langsung dapat diterapkan bersama masyarakat sehingga diharapkan akan muncul rasa kepemilikan terhadap inisiatif tersebut. Dukungan dari pihak tim kerja bersama dan tim kerja desa akan terus dilakukan dalam upaya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dan upaya menjaga kelestarian lingkungan.

“Keterlibatan ICRAF di Kabupaten Banyuasin ini juga untuk bertukar pembelajaran dan merumuskan opsi-opsi pertanian ramah lingkungan guna mengurangi dampak emisi di tingkat nasional. Pemerintah Kabupaten Banyuasin melalui Tim Kerja Bersama pun ikut terlibat dan mendukung penuh kerjasama ini. Jagung dan padi yang merupakan dua komoditas inti di Desa Daya Kesuma harapannya akan terus berproduksi dengan kualitas terbaik. Semoga Banyuasin akan menjadi penghasil gabah no.3 terbaik di tingkat nasional, dan itu semua berkat kerja sama seluruh pihak yang terlibat dan berkepentingan,” Kata Edil yang juga meresmikan kegiatan uji coba penanaman jagung di Desa Daya Kesuma.

Peneliti ahli di bidang Agroforestry System Dr Gerhard Manurung, menyatakan bahwa penguatan kapasitas melalui demoplot percontohan seluas 3 hektar yang terbagi menjadi 2 zona (1,5 hektar untuk plot percobaan dengan perlakuan varitas jagung dan pemupukan dan 1,5 hektar untuk plot budidaya jagung mengikuti praktek lokal) ini juga untuk melakukan perubahan pola penanaman guna mengurangi kebakaran lahan, meningkatkan pertanian ramah lingkungan, dan pemasaran produk pertanian, juga proses penguatan kelembagaan desa. “ICRAF akan terus mendorong Tim Kerja Bersama unt saling bersinergi dalam kegiatan penguataan kapasitas ini, dengan didukung para SKPD terkait termasuk pihak swasta,” tegas Gerhard.

Kabupaten Banyuasin memiliki lahan gambut seluas 295.800 hektar atau 13 persen dari total lahan gambut di Sumatera Selatan. Mayoritas lahan gambut dimanfaatkan oleh masyarakat untuk bercocok tanam padi. Desa Daya Kesuma adalah satu dari 34 desa yang menjadi lokasi penelitian Peat-IMPACTS di Sumatera Selatan. Inovasi usaha tani dalam praktik pertanian dengan memadukan sistem agroforestri ditawarkan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan sebagai bagian dari upaya untuk memperbaiki tata kelola gambut sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Model usaha tani tersebut telah disosialisasikan ke para pemangku kepentingan mulai dari pemerintah provinsi hingga pemerintah desa, masyarakat, LSM, asosiasi, perusahaan swasta lainnya untuk menemukan rumusan yang cocok dengan desa sasaran.

Turut hadir dalam acara ini beberapa dinas terkait, diantaranya Dinas PUPR, Dinas DPMD, Dinas DLH, Dinas Perikanan, Dinas Kominfo, dan Forum DAS Sumatra Selatan, serta seluruh Tim Kerja Desa yang juga turut terlibat dalam kegiatan ini.

Peat IMPACTS atau Improving the Management of Peatlands and the Capacities of Stakeholders in Indonesia adalah bagian dari International Climate Initiative (IKI), Kementerian Federal Jerman untuk Lingkungan Hidup, Konservasi Alam dan Keselamatan Nuklir yang mendukung prakarsa ini dengan landasan keputusan yang diadposi oleh parlemen Jerman. Proyek ini berlangsung selama 4 tahun (2020–2023) di Kabupaten Banyuasin dan Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, dan Kabupaten Kubu Raya di Kalimantan Barat.

Banyuasin, 14 Juli 2022

Dua tahun kiprah #PahlawanGambut:
Gali Pengetahuan, Dorong Pembelajaran Bersama Sumatera Selatan & Kalimantan Barat

Untuk menggali pengetahuan, saling berbagi informasi dan mendorong pembelajaran antar daerah di Indonesia yang memiliki gambut, World Agroforestry (ICRAF) Indonesia melalui Peat-IMPACTS Indonesia menggelar seminar nasional yang mempertemukan para pembuat kebijakan dari dua provinsi dan kabupaten-kabupaten dari Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat.

Kegiatan ini juga menjadi sebuah refleksi terhadap perjalanan Peat-IMPACTS selama dua tahun terakhir ini. Hadir sebagai pembicara adalah perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pertanian, dan dari Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM).

Direktur ICRAF Indonesia Dr Sonya Dewi mengatakan bahwa seminar ini diharapkan akan memberi kesempatan untuk saling kenal di antara Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat. Dan kedua daerah bisa saling berbagi pengalaman dan pengetahuan sehingga ada pembelajaran yang bisa dipetik dari kegiatan ini. Kegiatan ini penting bagi Lembaga kami yang memiliki 80 peneliti dengan visi dan misi yang sangat ambisius untuk mencapai dunia yang setara dengan kesehatan ekosistem, agar para petani, masyarakat dan pihak lainnya mendapat manfaat yang sebesar-besarnya maupun ilmu pengetahuan dari pepohonan dan perpaduan pepohonan dengan komoditas lainnya.

Ambisi berkiprah di lahan gambut memberi tantangan tersendiri. Kondisi biofisik gambut, sosial, budaya, dan ekonomi, dijajaki untuk menciptakan dampak yang lebih baik. Dengan menitikberatkan adanya kemitraan dan kolaborasi, pertemuan antara dua provinsi dan tiga kabupaten ini diharapkan akan terbangun proses belajar yang efektif karena masing-masing provinsi dan kabupaten memiliki pengalaman unik yang berharga, sehingga bisa memetik pembelajaran yang relevan melalui kegiatan ini.

Wakil Gubernur Sumatera Selatan H Mawardi Yahya, menyatakan rasa bangga dan mendapat kehormatan dengan ICRAF memilih Palembang sebagai lokasi penyelenggaraan seminar nasional ini. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan telah melaksanakan dan merancang program-program pembangunan untuk menjawab tantangan peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah gambut dan menjaga keberlanjutan gambut. Dan menyambut baik kehadiran Peat-IMPACTS beserta para mitra, karena memiliki tujuan yang sama, agar masyarakat desa bisa menikmati peningkatan pendapatan juga gambut kita lestari.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan mengatakan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya juga mengapresiasi pemilihan lokasi kegiatan Peat-IMPACTS dan harapannya kerjasama dan kepedulian para stakeholder diluar pemerintahan akan terus berlanjut untuk dapat membangun sinergisitas dalam upaya perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut dan sumber daya alam lainnya guna mencapai tujuan pembangunan yang komprehensif di Kabupaten Kubu Raya.

Berbagai praktek pemanfaatan lahan gambut terus dilakukan dengan pemberdayaan masyarakatnya. Pembentukan kelompok kerja di Kubu Raya pun menjadi awalan yang baik agar kolaborasi berbagai mitra pembangunan terus dilakukan, untuk berdiskusi, media penyebaran adopsi Best Practices, melakukan work mapping dan menciptakan innovative Financing dalam pembiayaan pembangunan daerah.

Selain Bupati Kubu Raya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat Ir Adi Yani, hadir mewakili Kabupaten Kubu Raya dan Provinsi Kalimantan Barat. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan pun turut hadir yang diwakili oleh Regina Ariyani, Kepala Bidang Infrastrukur dan Pengembangan Wilayah Bappeda Provinsi Sumatera Selatan, beserta perwakilan dari Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Kabupaten Banyuasin.

Capaian dua tahun kiprah Peat-IMPACTS
Beberapa capaian mulai dari tingkat nasional, provinsi dan kabupaten telah dihasilkan. Juga di tingkat Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG), sampai di tingkat desa.

Peat-IMPACTS Indonesia yang dimulai sejak 2020 adalah sebuah program riset-aksi yang berlokasi di dua Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan, dan di Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat. Bekerja bersama berbagai pihak dalam mengkaji topik-topik opsi penghidupan di ekosistem gambut, perencanaan penggunaan lahan, pengukuran emisi dari lahan gambut, pemberdayaan petani, pengarusutamaan kebijakan terkait jasa lingkungan dan pengelolaan pengetahuan. Sistem pengelolaan pengetahuan atau yang dinamakan WikiGambut juga melibatkan banyak pihak untuk bersama mengembangkan pengetahuan tentang Gambut. Berbagai kegiatan telah dilakukan dengan mengundang berbagai sumber yang diberi nama “Bincang Gambut”.

Menumbuhkan kecintaan dan kepedulian terhadap gambut bagi generasi masa depan, telah dilakukan pengintegrasian pengetahuan tentang gambut. Bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Ogan Komering Ilir, Banyuasin dan Kubu Raya, serta bermitra dengan Forum DAS Sumsel, BRGM dan lainnya, tim penyusun kurikulum muatan lokal (Kurikulum Edukasi Gambut) Sumsel dan Kalbar saat ini sudah terbentuk. Kini sedang dalam proses menyelesaikan kurikulum dan bahan ajar gambut di tingkat SD bersama para pendidik dari tiga Kabupaten target Peat-IMPACTS.

Perangkat analisis penilaian guna lahan dan penghidupan untuk resiliensi (ALLIR) telah dibangun untuk memetakan risiko dan peluang serta penyusunan intervensi. Begitu juga dengan tipologi di masing-masing lokasi Kabupaten di Kalbar dan Sumsel telah dibangun pada kesatuan hidrologis gambut untuk berbagai analisis termasuk pemilihan lokasi desa. Penyusunan dan diseminasi Peta Jalan Gambut Lestari atau “Pegari” (27 dokumen di Kalbar dan 34 dokumen di Sumsel) sudah dilakukan serentak di Kab. Banyuasin, Sumatera Selatan dengan melibatkan pemangku kepentingan desa, kecamatan, dan kabupaten.

Pengembangan tool IBUSS (Integrated Business) untuk penilaian Sistem Usaha Tani (SUTA), profitabilitas SUTA, rantai nilai produk SUTA, dan kelembagaan di tingkat masyarakat desa yang berpotensi mendukung Peningkatan Penghidupan Berwawasan Lingkungan (P2BL). Tool ini untuk mengembangkan disain tujuh model usaha tani untuk enam desa contoh di masing-masing provinsi, sebagai bentuk implementasi peningkatan kapasitas melalui pembangunan plot demonstrasi dan pelatihan-pelatihan SUTA, rantai nilai, dan kelembagaan masyarakat.

Di tahun 2021 telah diluncurkan sebuah Portal Informasi https://PahlawanGambut.id yang menghimpun seluruh produk komunikasi dan publikasi, yang juga menjadi platform utama penyebarluasan informasi mengenai capaian dan kegiatan Peat-IMPACTS ke para Pemangku Kepentingan, masyarakat dan media. Portal ini terdiri dari Modul Bekerja, Bercerita, Belajar dan Berbagi.

Usaha Tani Mina Padi, Lebah Madu Kelulut, serta Pertanian Ramah Lingkungan, dijajal di Desa Baru, Kabupaten Banyuasin

Petani di desa Baru di Kecamatan Rambutan, Banyuasin, Sumatera Selatan kini telah memiliki lahan uji coba (demonstration plot) budidaya ikan di sawah atau mina padi, lebah madu kelulut, dan pertanian ramah lingkungan yang akan dikelola secara bersama oleh warga desa dan dibawah bimbingan peneliti dan para pakar, sebagai upaya mencari model penguatan penghidupan petani berwawasan lingkungan.

Uji coba ini merupakan buah dari proses panjang penggalian data dan penggalangan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk masyakarat desa, yang telah dilakukan sejak akhir tahun 2021. Sebelumnya, peneliti dari World Agroforestry (ICRAF) Indonesia yang telah menggali data di desa, mengolah dan mengembalikannya sebagai bahan diskusi bersama masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya. Kegiatan ini adalah bagian dari kerja sama antara ICRAF, melalui Peat-IMPACTS and Pemerintah Kabupaten Banyuasin melalui Bappeda, Dinas Pertanian dan Dinas Perikanan.

Didampingi oleh Direktur ICRAF Indonesia Dr Sonya Dewi, Kepala Bappeda dan Litbang Kabupaten Banyuasain Qosarudin, Bupati Banyuasin H. Askolani Jasi meresmikan dimulainya implementasi lahan uji coba seluas 2 hektar yang terbagi menjadi 2 zona. Zona A untuk usaha tani mina padi dan zona B untuk budidaya lebah madu, pada Rabu (20/4/2022).

Askolani menyambut hangat prakarsa untuk memperkenalkan jenis-jenis usaha tani yang para petani secara langsung sehingga diharapkan akan muncul rasa kepemilikan terhadap inisiatif tersebut. Dukungan dari pihak lain sangat diharapkan oleh pemerintah daerah terlebih dalam upaya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dan upaya menjaga kelestarian lingkungan.

“Atas nama pemerintah dan masyarakat, kami sampaikan apresiasi yang mendalam kepada ICRAF dan para mitra. Pilihan usaha tani masyarakat di desa dengan lahan gambut tidak banyak, sehingga Inovasi-inovasi semacam ini akan membantu masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan mereka dan pada saat yang sama menjaga keberlanjutan lingkungan,” kata Askolani dalam sambutannya yang secara langsung meresmikan Model Usaha Tani untuk Pengelolaan Gambut Lestari di Desa Baru, Kecamatan Rambutan. Kabupaten Banyuasin memiliki lahan gambut seluas 295.800 hektar atau sekitar 13 persen dari total lahan gambut di Sumatera Selatan. Mayoritas lahan gambut dimanfaatkan oleh masyarakat untuk bercocok tanam padi.

Dr Sonya Dewi mengatakan Desa Baru adalah satu dari 34 desa yang menjadi lokasi penelitian Peat-IMPACTS di Sumatera Selatan. Inovasi usaha tani dalam praktik pertanian dengan memadukan sistem agroforestri ditawarkan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan sebagai bagian dari upaya untuk memperbaiki tata kelola gambut sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Model usaha tani tersebut telah disosialisasikan ke para pemangku kepentingan mulai dari pemerintah provinsi hingga pemerintah desa, masyarakat, LSM, asosiasi, perusahaan swasta lainnya untuk menemukan rumusan yang cocok dengan desa sasaran.

“Ke 34 desa ini memiliki karakter yang berbeda-beda satu dengan lainnya, baik dari sisi ekologis dan mata pencaharian masyarakatnya. Belum ada satu solusi yang menjawab beragam karakter itu. Plot demonstrasi atau lahan uji coba ini juga menjadi ruang belajar bersama, untuk petani khususnya dan masyarakat luas serta pemangku kepentingan tentang bagaimana praktik perekonomian bisa diselaraskan dengan kondisi alam supaya berkelanjutan.” tambahnya.

Turut hadir pula dalam kegiatan peresmian tersebut Tim ICRAF, Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan, Tim Kerja Bersama Kabupaten Banyuasin, Camat Kecamatan Rambutan, Kepala Desa Baru serta pihak-pihak terkait.

Peat IMPACTS atau Improving the Management of Peatlands and the Capacities of Stakeholders in Indonesia adalah bagian dari International Climate Initiative (IKI), Kementerian Federal Jerman untuk Lingkungan Hidup, Konservasi Alam dan Keselamatan Nuklir yang mendukung prakarsa ini dengan landasan keputusan yang diadoposi oleh parlemen Jerman. Proyek ini berlangsung selama 4 tahun (2020–2023) di Kabupaten Banyuasin dan Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, dan Kabupaten Kubu Raya di Kalimantan Barat.

Banyuasin, 20/04/2022

Oleh: Tikah Atikah & Emmy Fitri

It’s time to sow the seeds of love for peat through education at an early age

Why do we need to invite the younger generation to care and understand for the environment, especially for people who live with peat?

Early childhood is an important period to equip children with knowledge and education to develop their potential. This age is also optimal for instilling awareness and caring, and forming a positive mindset. Especially good attitudes and behaviour towards preserving ecosystems, and especially peat.

Peat-IMPACTS Indonesia sees the need to and importance of initiating non-formal education programmes for all school students, by providing an introduction, understanding and awareness through education. Together with local development partners in two Peat-IMPACTS site locations in South Sumatra and West Kalimantan, we initiated a programme for capacity strengthening and mainstreaming an Environmental Education Curriculum starting at the district level.

Workshop in South Sumatra on Capacity Building and Mainstreaming Environmental Education (Watershed and Peat) as local content for elementary school students, 23-24 September 2021

Workshop in South Sumatra on Capacity Building and Mainstreaming Environmental Education (Watershed and Peat) as local content for elementary school students, 23-24 September 2021

Introducing students to the surrounding environment is the main objective of this programme. South Sumatra province is often faced with environmental and ecosystem problems, such as forest and land fires, some of which occur in peatlands. In addition, watershed degradation caused by erosion, land-use change and environmentally unfriendly agricultural cultivation, also has a major impact on South Sumatra. For this reason, it is important for us to instil an understanding of peat and watersheds at all levels of society, for both adults and children. West Kalimantan province is also facing land and forest management problems, including peatland forest and land fires, land erosion, and deforestation. These affect community well-being, both in and around forest estate areas.

Workshop on Capacity Building and Mainstreaming the Environmental Education Curriculum (Peat) as local curriculum content in Kubu Raya district on 8–9 November 2021

Workshop on Capacity Building and Mainstreaming the Environmental Education Curriculum (Peat) as local curriculum content in Kubu Raya district on 8–9 November 2021

This programme expects to be useful in providing elementary school students with the necessary attitudes, knowledge, and skills to be aware of their natural, social, and cultural environment, which will benefit them and their communities, and in developing local cultural values in the context of supporting national development. This is also to prepare school students to have a solid insight into their environment, and nurture attitudes, behaviours, and a willingness to conserve and develop natural resources, social qualities, and culture to support national and regional development.

Workshops were conducted involving key academics from the Ministry of Education and Cultural Affairs, provincial and district education offices, school supervisors, principals and teachers, development partners and others.

Topics presented included the important functions and roles of peat for life and livelihoods, what peat degradation is, and how to carry out peat restoration. The workshops received support from stakeholders for the establishment of a working group to prepare a draft curriculum and teaching materials for environmental and peat education. We hope this activity will break ground for other regions to do the same thing in taking concrete steps to rehabilitate and conserve peatland and instil the idea that “peat is the future”.

Saatnya menebar kepedulian pada gambut Kubu Raya lewat edukasi di usia dini

Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Sebuah ungkapan untuk tidak menyia-nyiakan waktu dalam berbuat kebaikan yang membawa manfaat untuk kita maupun untuk orang banyak. Dalam hidup, kita selalu dihadapkan pada berbagai tantangan, yang harus kita hadapi. Begitu juga dengan perhatian dan welas kasih kita terhadap lingkungan sekitar, dimana hidup kita bergantung.  Usia dini adalah masa yang penting untuk membekali anak dengan pengetahuan tentang hal tersebut. Usia ini optimal untuk menanamkan kesadaran dan kepedulian untuk melestarikan lingkungan dan ekosistem. Oleh karenanya, mengenalkan lingkungan sekitar, termasuk didalamnya lahan gambut adalah salah satu hal penting yang perlu ditanamkan pada berbagai kalangan masyarakat baik usia dewasa atau anak-anak.

Provinsi Kalimantan Barat adalah salah satu provinsi yang kerap kali dihadapkan pada permasalahan penanganan lahan dan hutan. Permasalahan tersebut meliputi kebakaran hutan dan lahan termasuk yang ada di lahan gambut, erosi lahan, deforestasi, dan sebagainya.  Permasalahan tersebut mau tidak mau mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat, baik yang berada di sekitar kawasan maupun di luar kawasan hutan. Permasalahan tersebut bertambah kompleks dengan adanya keragaman faktor penyebab, termasuk didalamnya budaya dan kebiasaan budidaya pertanian dan pembukaan lahan.

Sejalan dengan itu, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Kubu Rayasebagai bagian dari Provinsi Kalimantan Barat bersama Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dan ICRAF-Indonesia berinisiatif untuk menginisiasi pendidikan tentang gambut dan lingkungan dengan menjajaki adanya muatan pembelajaran berbasis materi lokal melalui berbagai metode pembelajaran yang sesuai dengan konteks Kubu Raya.

Dalam lokakarya “Peningkatan Kapasitas dan Pengarusutamaan Kurikulum Pendidikan lingkungan (Gambut) Sebagai Materi Muatan Lokal di Kabupaten Kubu Raya”, tanggal 8-9 November 2021 yang lalu, bertujuan untuk membangun kesamaan persepsi pemangku kepentingan terkait edukasi gambut dan lingkungan. Sebagai bagian dari kegiatan lokakarya, dikumpulkan berbagai ide, saran dan masukan terkait proses penyusunan kurikulum dan bahan ajar gambut bagi generasi muda di Kubu Raya. Muatan lokal sebagai instrumen edukatif diusulkan menjadi pilihan. Saat ini kurikulum muatan lokal di Kubu Raya belum memasukkan pendidikan lingkungan khususnya yang terkait dengan perlindungan dan pengelolaan gambut.  Hal ini perlu segera dimulai dengan menerapkannya melalui muatan lokal pada pendidikan formal dengan memperhatikan berbagai kerangka regulasi yang ada. Lewat kegiatan ini diharapkan terbangun dukungan dari instansi terkait, yang kemudian dituangkan ke terbentuknya tim penyusunan draft kurikulum dan bahan ajar pendidikan gambut dan mangrove di Kabupaten Kubu Raya. ICRAF sebagai mitra Kabupaten Kubu Raya menempatkan bahwa kegiatan bersama para pihak ini merupakan rangkaian kegiatan yang dijalankan untuk mendukung #PahlawanGambut dalam program Peat-IMPACTS Indonesia dengan dukungan dana dari BMU-IKI. Proyek ini berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), khususnya TPB-13 (Aksi Iklim) dan TPB-15 (Kehidupan Darat).

Dr. Sonya Dewi, Direktur ICRAF Indonesia, dalam sambutannya mengatakan “ICRAF mempunyai mandat untuk melaksanakan kegiatan riset terkait pengelolaan lanskap dan ilmu pengetahuan agar dapat dipakai dan dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat di tingkat lokal, regional, global. Proyek Peat-IMPACTS memfokuskan diri di lahan gambut, dengan mengetengahkan peningkatan kapasitas para pemangku kepentingan dalam mengelola lahan gambut di Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Kubu Raya. Dalam kita mengelola kawasan tentunya diperlukan adanya pemahaman bersama, kawasan hidrologis gambut seperti apa, fungsinya apa, ekosistemnya seperti apa. Hal ini perlu dilakukan pemahaman diawal baik jangka pendek, jangka tengah maupun jangka panjang”.

Beliau juga menambahkan, lokakarya ini penting untuk menyasar generasi muda yang keterlibatannya akan dilakukan hari ini, dan dampaknya dirasakan di masa depan nanti. Generasi muda adalah bagian dari staheholder yang sangat penting untuk memahami muatan lokal untuk menyasar pemanfaatan tata kelola ekosistem gambut dan mangrove dan berperan dalam inisiatif ditingkat global.

“Hal ini bisa berdampak pada kesempatan perbaikan ekonomi bagi generasi muda dengan mengisi kebutuhan tenaga kerja di masa depan yang saat ini sering disebut sebagai “Green Jobs”, ujar Sonya.

Pada akhirnya Dr Sonya Dewi menyampaikan: “Kami menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh dari Bapak Bupati Kubu Raya untuk mempersiapkan Kabupaten Kubu Raya sejak dini dalam mengarusutamakan pengetahuan tentang gambut dan mangrove.  Kami sampaikan juga apresiasi juga kepada Kepala Dinas Pendidikan yang mampu mendorong apa yang kita pelajari dan dihasilkan nanti, untuk direplikasi ke daerah-daerah lain, juga ke provinsi lain lewat BRGM.” Inisiasi kegiatan ini disambut baik oleh Dr. Ir. Suwignya Utama, MBA., Kepala Kelompok Kerja Edukasi dan Sosialisasi BRGM, yang menyampaikan beberapa program yang telah dan sedang dilakukan oleh BRGM. “Seperti yang telah kita ketahui bersama, BRGM mempunyai pendekatan 3R, kami juga mempunyai program penguatan kelembagaan masyarakat dengan membangun desa-desa mandiri peduli gambut dan mangrove, dengan menggandeng pihak desa untuk pemeliharaan fungsi lingkungan dan sosialisasi edukasi. Sehingga masyarakat bisa memahami pentingnya melindungi gambut dan mangrove.”

“Tentunya BRGM dan ICRAF sudah sejalan dan membuka kolaborasi untuk mendorong aspek edukasi ini agar dapat masuk ke aspek pendidikan di Kabupaten Kubu Raya, yang tentunya diinisiasi melalui lokakarya pada hari ini. Kita perlu tingkatkan kesadaran dan membangun sikap positif generasi muda untuk membangun perilaku menjaga lingkungan (gambut dan mangrove). Aspek generasi muda perlu kita kawal dan kita dorong sejak awal, dan tentunya masuk ke dalam kurikulumnya,” ujar beliau.

Saatnya menanjak untuk gambut Kubu Raya

Bupati Kubu Raya, H. Muda Mahendrawan S.H., M.Kn., dalam sambutannya menyampaikan “Masyarakat Kabupaten Kubu Raya sebetulnya sudah “terkepung” dengan gambut. Para pendidik pun sudah cukup paham mengenai hal ini, utamanya bagi mereka yang tinggal di lahan gambut. Gambut pun sudah menjadi bagian dari hidup kita. Kegiatan ini juga mendapatkan dukungan dari Badan Restorasi Gambut dan Mangrove/BRGM. “M” disini juga berarti “Menanjak” ya Bapak/Ibu, supaya kita dapat melihat hal-hal penting dari perspektif yang lebih luas. Sehingga kebijakan dan kebajikan bisa kita teropong secara langsung dan sasaran pengarusutamaan akan lebih terarah, khususnya untuk pengarusutamaan edukasi ini ke tingkat TK, SD, dan selanjutnya.”

Langkah kongkrit untuk rehabilitasi dan konservasi akan kita harapkan dari para generasi muda kita yang tertanam dalam pikiran mereka “mangrove adalah masa depan”. Sebagai sumber pangan, peradaban unggul, dan sumber kekuatan yang ada di desa-desa. Melihat literasi gambut dan mangrove menjadi langkah-langkah kreatif dan mengandung solusi. Untuk menciptakan berbagai peluang termasuk ekowisata, wisata desa, dan menyangkut komoditi-komoditinya, jahe kelapa, kopi, pinang, dari sungai juga, sehingga dapat terawat dan terkelola dgn baik. Tegas Pak Bupati.

Kami semua merespon cepat keterlibatan ICRAF dan BRGM untuk bisa ikut bersama-sama di Kubu Raya, memperkuat semua aspek lingkungand an gambut yang akan menjadi unsur pendidikan. Hasil riset, verifikasi dan inventarisasi, termasuk best practice melalui Taman Baca, Rumah Baca, akan terus kita perkuat dengan menggandeng Lembaga-lembaga non-formal. Kesetaraan gender, budaya perempuan sangat signifikan untuk memperkaya literasi terkait gambut dan mangrove. Harapan besar ini disampaikan Pak Muda Hendrawan, sekaligus membuka lokakarya ini.

Pemahaman lebih lanjut mengenai gambut dan mangrove dipaparkan pada sesi paparan materi. Terdapat empat materi utama yang disampaikan secara rinci oleh Drs. Sugeng Hariadi, M.M., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat, mengenai “Pentingnya Penguatan Karakter dalam Muatan Lokal (Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan)”. Beliau menjelaskan mengenai pentingnya tujuan kegiatan ini, selain memperkenalkan peserta didik kepada lingkungannya, juga sebagai penguatan pembangunan karakter peserta didik, sehingga dapat menjadi bekal kemampuan dan ketrampilan untuk penghidupan dimasa depan. Bahkan juga mungkin untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Penguatan ini bukan hanya dari kita ke anak-anak, namun anak-anak juga bisa mengingatkan kepada kita semua, sebagai orang tuanya, para pendidiknya serta masyarakat yang lebih luas. “Kami mendukung lokakarya ini untuk memberi pemahaman lanjutan kepada masyarakat terutama anak-anak agar menyadari betapa pentingnya mengelola dan melestarikan lingkungan. Harapannya gambut dan mangrove akan semakin lestari, saling menjaga dengan tetap mengambil manfaatnya”, tambah Drs. Sugeng Hariadi.

Pemaparan dilanjutkan oleh Roby Royana, S.Hut, M.Si., Tenaga Ahli Kelompok Kerja Kerjasama, Hukum dan Hubungan Masyarakat BRGM, yang menyampaikan materi tentang “Membedah Fungsi dan Peran Penting Gambut dan Mangrove bagi Kehidupan dan Penghidupan”. Materi tentang “Kondisi terkini Gambut dan Mangrove dan Pentingnya Muatan Lokal”disampaikan oleh Prof. DR. Dwi Astiani, Guru Besar Manajemen Kehutanan Fakultas Kehutanan, Universitas Tanjungpura. Materi terakhir pada hari pertama lokakarya ini disampaikan oleh Sri Nugroho Jati, M.Psi., Psikolog, Universitas Muhammadiyah Pontianak yang menyampaikan materi tentang “Materi Pendidikan Dasar Lingkungan dalam Perspektif Psikologi Pendidikan”.

Peserta lokakarya yang hadir berasal dari Pemerintah Kabupaten Kubu Raya dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, diantaranya: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat dan Kabupaten Kubu Raya, Bappeda Provinsi Kalbar dan Kab. Kubu Raya, Dewan Pendidikan Kab. Kubu Raya, pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, akademisi mitra pembangunan, CSO dan media. Pertemuan ini juga dihadiri secara langsung oleh Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM).

Menanam Bersama Benih Cinta Lingkungan, DAS dan Gambut Sejak Usia Dini Lewat Muatan Lokal Pelajaran Sekolah

Tak kenal maka tak sayang, pepatah ini kerap kali diperdengarkan pada percakapan sehari-hari, untuk menyatakan apabila kita tidak mengenal seseorang atau sesuatu, maka kita tidak memiliki perhatian kepada orang atau hal tersebut. Bagi kita orang Indonesia perlu diakui, bahwa setiap pepatah pasti ada maknanya dan biasanya mengacu pada kata bijak yang bertemakan kehidupan. Dan berbicara mengenai kehidupan, kita harus mengenal lingkungan tempat dimana kita tinggal, karena kesejahteraan kehidupan kita bergantung kepada lingkungan dimana kita berada.

Mengenalkan lingkungan sekitar, termasuk didalamnya Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Gambut adalah salah satu hal penting untuk kita tanamkan kepada semua kalangan masyarakat baik usia dewasa atau anak-anak. Provinsi Sumatera Selatan merupakan salah satu provinsi yang memiliki area gambut yang luas di Indonesia. Provinsi ini kerap kali dihadapkan pada permasalahan lingkungan dan ekosistem, seperti kebakaran hutan dan lahan, yang sebagian terjadi di lahan gambut. Selain itu permasalahan degradasi DAS yang disebabkan oleh erosi, alih guna lahan, budidaya pertanian yang tidak ramah lingkungan, juga membawa pengaruh besar untuk Sumatera Selatan.

Untuk itu Forum DAS Sumatera Selatan bekerjasama dengan ICRAF Indonesia, Dinas Pendidikan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), dan didukung oleh Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan  menginisiasi penyusunan kurikulum pendidikan tentang DAS dan Gambut. Sebagai langkah awal, diselenggarakan Lokakarya Peningkatan Kapasitas dan Pengarusutamaan Kurikulum Pendidikan Lingkungan (DAS dan Gambut), Sebagai Materi Muatan Lokal bagi Siswa Sekolah Dasar. Diselenggarakan selama dua hari, 14-15 Oktober 2021, di Wyndham Hotel Palembang, secara luring dan daring. Kegiatan Lokakarya ini merupakan lanjutan dari kegiatan yang sama yang telah dan dalam pelaksanaan di Kabupaten Banyuasin, beberapa waktu yang lalu.

Usia dini adalah masa yang penting untuk membekali anak dengan pengetahuan dan pembinaan untuk mengembangkan potensi mereka. Usia ini juga optimal dalam menanamkan kesadaran, kepedulian dan membentuk hal-hal positif tentang berbagai hal terkait. Khususnya sikap dan perilaku yang tepat untuk melestarikan lingkungan dan ekosistem. Menumbuhkan pemahaman dan kesadaran tentang DAS dan lahan gambut, perlu dilakukan sejak awal, melalui pendidikan formal di tingkat Sekolah Dasar (SD).

Peserta lokakarya yang hadir berasal dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten OKI, koordinator wilayah, pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, mitra pembangunan, CSO dan media. Bertujuan untuk menyamakan persepsi para pihak tentang program edukasi lingkungan melalui proses penguatan kapasitas dan pengumpulan saran dan ide terkait materi pendidikan DAS dan lahan gambut. Sasarannya adalah membangun kurikulum dan bahan ajar DAS dan gambut yang dapat diintegrasikan kedalam muatan lokal pendidikan di tingkat SD (kelas 4, 5 dan 6).

Dr. Syafrul Yunardy, S.Hut., M.E., selaku Ketua Forum Koordinasi Pengelolaan DAS Sumatera Selatan, dalam sambutannya mengatakan “Kegiatan lokakarya ini untuk membantu percepatan pencapaian visi dan misi Bapak Gubernur Sumsel terkait Sumsel bebas asap; dan mengapa kegiatan terkait lingkungan (DAS dan Gambut) ini salah satunya dilaksanakan di Kabupaten Ogan Komering Ilir? Ini dikarenakan lahan gambut terluas berada di Kabupaten OKI, yang juga memiliki cukup banyak anak-anak sungai dan Sub DAS. Tentunya ada korelasi yang erat dengan masalah ekonomi, sosial, budaya serta penghidupan dan kehidupan masyarakat Kabupaten OKI.”

Tujuan lain pun disampaikan Dr. Syafrul bahwa mengarusutamakan topik-topik lingkungan hidup khususnya DAS dan gambut sesuai dengan kondisi lokal Kabupaten OKI agar menjadi perhatian mulai dari tingkat yang paling bawah dengan masuk di dalam kurikulum pendidikan, sehingga anak-anak akan paham apa peran DAS dan gambut di OKI. Adalah mimpi bersama bahwa anak-anak dapat berperan aktif terlibat dalam menjaga lingkungan di masa depan. Beliau pun menginformasikan bahwa kegiatan yang sama telah dan sedang dilakukan di Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.

Inisiasi kegiatan ini disambut baik oleh Direktur ICRAF Indonesia, Dr Sonya Dewi yang pada kesempatan ini diwakili oleh Feri Johana selaku Koordinator Proyek Peat-IMPACTS, ICRAF Indonesia. Feri Johana menjelaskan bahwa ICRAF Indonesia ikut berperan aktif dan mendukung inisiatif ini dengan bekerjasama secara erat dengan Forum DAS dan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten serta Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten, khususnya Kabupaten OKI dan Banyuasin untuk mendorong pengelolan gambut berkelanjutan di Provinsi Sumatera Selatan.

“Kegiatan ini terkait penguatan kapasitas dan pengarusutamaan di tingkat Sekolah Dasar di Kabupaten OKI. Aspek terpenting terkait tata kelola adalah mendesain aspek Pendidikan di Dalam pengelolaan program, agar dapat menjadi investasi jangka panjang yang jelas keberlanjutannya.” ujar beliau.

Feri Johana pun berharap akan banyak generasi penerus di Sumatera Selatan yang dapat membawa perubahan kedepan. Generasi penerus ini perlu diwarisi dengan pemahaman dan pengetahuan yang relevan sebagai pemegang tongkat estafet pembangunan dimasa depan Provinsi Sumatera Selatan.

  1. Husin S.Pd. MM. M.Pd., selaku Sekretaris Daerah Kabupaten Ogan Komering Ilir, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Pemda Kabupaten OKI berterima kasih telah ditunjuk sebagai salah satu pilot project dan mendukung kegiatan ini; karena lingkungan merupakan isu global dan nasional, sehingga sangat tepat jika masalah lingkungan ini dijadikan salah satu kebijakan muatan kurikulum lokal pendidikan di Kabupaten OKI.

“Dengan adanya kurikulum tentang lingkungan, kita setidaknya memberi pemahaman mengenai upaya untuk memperhatikan dan memelihara lingkungan, dengan aksi peduli lingkungan yang dapat melibatkan siswa, mahasiswa, bahkan para pemuka,” kata Pak Husin.

Semoga hasil kegiatan ini dapat menjadi referensi bagi daerah lain maupun di lingkup nasional, serta dapat berdampak luar biasa yang mempunyai nilai tambah bagi kehidupan masyarakat di Kab. OKI, sehingga karhutla dan banjir dapat terminimalisir ketika DAS dan Gambut dapat terpelihara dengan baik. Harapan besar Pak Husin sekaligus membuka lokakarya ini.

Pemahaman lebih lanjut mengenai DAS dan Gambut dipaparkan pada sesi paparan materi. Yang pertama disampaikan secara rinci oleh Andree Ekadinata S.hut., M.Si., Koordinator Tim Paket Kerja 6-Pengelolaan Pengetahuan, Peat IMPACTS, ICRAF Indonesia, mengenai “Membedah Fungsi dan Peran Penting Gambut bagi Kehidupan dan Penghidupan”. Menjelaskan apa itu gambut dan fungsinya, degradasi gambut, memulihkan gambut, dan mengelola gambut untuk tidak rusak lagi, sekaligus menumbuhkan pemahaman dan kecintaan terhadap gambut.

“Restorasi gambut adalah proses panjang untuk mengembalikan fungsi ekologi lahan gambut dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang terkena dampak dari lahan gambut yang terdegradasi.” tegas Andree.

Beliau juga mengajak seluruh peserta lokakarya untuk menjadi #PahlawanGambut, dengan berpartisipasi memberikan ide dan pemikiran untuk menterjemahkan pengetahuan teknis gambut menjadi bahan ajar yang bisa digunakan di berbagai jenjang pendidikan; ikut serta membangun kurikulum Pendidikan dan bahan ajar, serta menguji dan mencoba kurikulum dan bahan ajar tersebut agar dapat memberikan evaluasi konstruktif untuk perbaikan-perbaikan di masa depan.

Selanjutnya paparan mengenai “Membedah Fungsi dan Peran Penting DAS bagi Kehidupan dan Penghidupan”, yang disampaikan oleh Dr. Sulthani Azis, M.Sc., Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Musi.

Beliau menjelaskan bahwa DAS terdiri dari tiga kesatuan, yaitu bentanglahan, hidrologi dan ekosistem. Ekosistem DAS di wilayah hilir merupakan zona pemanfaatan sumberdaya dengan kerapatan drainase kecil dan bentanglahannya berupa dataran yang berpotensi banjir/tergenang. Dengan pola irigasi dominan dan jenis-jenis vegetasi yang dominan pertanian dan lahan gambut.

“Anak didik kita harus bisa mengetahui manfaat bentanglahan agar dapat mengelola lahan tempat tinggal mereka untuk penghidupan dimasa datang. Karena pada dasarnya manusia adalah agen pengelola lingkungan yang perlu ditanamkan mengenai dasar pemahaman ekosistem DAS dan Gambut. Mengapa, manfaat serta dampak dari pemeliharaan lingkungan, generasi muda perlu terlibat aktif dalam kampanye pelestarian lingkungan di era digital saat ini,” jelas Dr Azis.

Penyampaian kedua materi tersebut dimoderatori oleh Wakil ketua Forum Koordinasi Pengelolaan DAS, Dr. Ir. Karlin Agustina, MSi., yang mengantarkan peserta lokakarya kepada diskusi yang lebih mendalam, mengenai upaya penyusunan kurikulum muatan lokal Pendidikan lingkungan DAS dan Gambut di Kabupaten Ogan Komering Ilir, yang akan dilakukan selama dua hari ini.

Lewat kegiatan ini diharapkan tercipta dukungan dari instansi terkait dan terbentuknya tim gugus tugas penyusunan draft kurikulum dan bahan ajar pendidikan lingkungan, DAS dan gambut Kabupaten OKI. Dengan begitu generasi muda Sumatera Selatan akan memiliki fondasi untuk menjaga lingkungannya secara berkelanjutan dari berbagai faktor penyebab kerusakan lingkungan.

Memupuk Cinta Lingkungan, DAS dan Gambut Sejak Usia Dini

Usia dini adalah masa yang penting untuk membekali anak dengan pengetahuan dan pembinaan untuk mengembangkan potensi mereka. Usia ini juga optimal dalam menanamkan kesadaran, kepedulian dan membentuk hal-hal positif tentang berbagai hal terkait. Khususnya sikap dan perilaku yang tepat untuk melestarikan lingkungan dan ekosistem.

Provinsi Sumatera Selatan, kerap kali dihadapkan pada permasalahan lingkungan dan ekosistem. Seperti kebakaran hutan dan lahan, yang sebagian terjadi di lahan gambut. Selain itu permasalahan degradasi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang disebabkan oleh erosi, alih guna lahan, budidaya pertanian yang tidak ramah lingkungan, juga membawa pengaruh besar untuk Sumatera Selatan.

Menumbuhkan pemahaman dan kesadaran tentang DAS dan lahan gambut, perlu dilakukan sejak awal, melalui pendidikan formal di tingkat Sekolah Dasar (SD). Karenanya, Forum DAS Sumatera Selatan bekerjasama dengan ICRAF Indonesia, didukung oleh Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan dan Kabupaten Banyuasin, menginisiasi penyusunan kurikulum pendidikan tentang DAS dan Gambut. Sebagai langkah awal, diselenggarakan Lokakarya Peningkatan Kapasitas dan Pengarusutamaan Kurikulum Pendidikan Lingkungan (DAS dan Gambut), Sebagai Materi Muatan Lokal bagi Siswa Sekolah Dasar. Diselenggarakan selama dua hari, 23-24 September 2021, di Beston Hotel Palembang, secara luring dan daring.

Peserta lokakarya yang hadir berasal dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Banyuasin, koordinator wilayah, pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, mitra pembangunan, CSO dan media. Bertujuan untuk menyamakan persepsi para pihak tentang program edukasi lingkungan melalui proses penguatan kapasitas dan pengumpulan saran dan ide terkait materi pendidikan DAS dan lahan gambut. Sasarannya adalah membangun kurikulum dan bahan ajar DAS dan gambut yang dapat diintegrasikan kedalam muatan lokal pendidikan di tingkat SD (kelas 4, 5 dan 6).

Dr. Syafrul Yunardy, S.Hut., M.E., selaku Ketua Forum Koordinasi Pengelolaan DAS Provinsi Sumatera Selatan, dalam sambutannya mengatakan “Kegiatan lokakarya ini untuk membantu percepatan pencapaian visi dan misi Bapak Gubernur Sumsel terkait Sumsel bebas asap; dan mengapa salah satunya terkait Daerah Aliran Sungai (DAS), dikarenakan melalui DAS kita dapat memitigasi bencana banjir, erosi dan kekeringan di lahan gambut.”

Tujuan lain pun disampaikan Dr. Syafrul bahwa pendidikan dan pengetahuan perlu digagas melalui muatan lokal sedari dini kepada siswa dan siswi Sekolah Dasar, sehingga mereka dapat juga berperan aktif terlibat dalam menjaga lingkungan.

Hal ini pun disambut baik oleh Direktur ICRAF Indonesia, Dr. Sonya Dewi yang menjelaskan bahwa ICRAF Indonesia ikut berperan aktif dan mendukung inisiatif ini dengan bekerjasama secara erat dengan Forum DAS dan tentunya Pemerintah Provinsi dan Kabupaten serta Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten, khususnya Banyuasin.

“Kalau kita mulai Pendidikan sejak dini, mereka para siswa dan siswi akan lebih cepat menyerap pengetahuan dan mempunyai dasar ilmu yang cukup baik untuk melakukan aksi yang cocok untuk daerahnya. Bahkan bisa saja mereka akan menularkan ilmu yang mereka dapat ke orang tuanya” ujar Dr. Sonya.

Dr Sonya pun berharap kurikulum dan bahan ajar yang akan disusun nanti bisa masuk kedalam muatan lokal, dan semoga Kabupaten Banyuasin sebagai kabupaten pertama yang menjadi pelopor kegiatan ini dapat menjadi contoh, agar bisa diterapkan juga di kabupaten-kabupaten lain yang mempunyai lahan gambut yang cukup significant.

Kegiatan Lokakarya Forum DAS Sumatera Selatan yang bekerjasama dengan ICRAF Indonesia ini pun mendapat dukungan penuh dari Drs. Riza Fahlevi, M.M., Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan serta Aminuddin, S.Pd., SIP., M.M., selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin.

“Apresiasi kepada Forum DAS dan ICRAF Indonesia yang telah mengawali langkah besar ini, dan memilih usia SD untuk pengembangan muatan local lingkungan, DAS dan gambut ini. Pendidikan merupakan investasi yang sangat besar untuk keberlanjutan kualitas penghidupan di masa depan. Tidak hanya di Kabupaten Banyuasin, tapi juga di seluruh 17 Kabupaten lainnya” kata Pak Riza Fahlevi dalam sambutanya sekaligus membuka lokakarya ini.

Dinas Pendidikan provinsi dan kabupaten tentu saja mengutamakan pendidikan, khususnya pengembangan kurikulum dan bahan ajar. Dua hari lokakarya ini perlu dijalankan dengan baik, agar terwujudnya Sumsel bebas asap dan melalui pendidikan akan terciptanya Sumsel tangguh, tegar dan terdepan, tegas Riza Fahlevi.

Beliau pun berharap dengan hadirnya ICRAF, maka inisiasi ini perlu dilakukan secara berkelanjutan, agar I = Ide dan inisiatif, menyumbangkan ide dan inisiatif dalam kegiatan lokakarya dan bersama-sama terlibat dalam pengembangan penyusunannya nanti; C = Chemistry, hubungan kedekatan secara kebatinan bersama, yaitu one team, one vision dan one goal; R = Reading, tetap membaca agar kualitas ilmu lokal dapat diandalkan; A = Aplikasi, memanfaatkan dan menguasai aplikasi dan teknologi yang ada sekarang; dan F = fokus, terus fokus agar hasilnya fantastis.

Paparan materi pertama disampaikan oleh Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengendalian DAS Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Dr. Saparis Soedarjanto, S.Si., M.T. mengenai “Membedah Fungsi dan Peran Penting DAS bagi Kehidupan dan Penghidupan”, yang menjelaskan bahwa ekosistem DAS merupakan bentang alam dan bentang kelembagaan yang kompleks. Pengelolaan DAS identik dengan permainan orkestra musik. Terciptanya harmonisasi dalam pengelolaan DAS diperlukan koordinasi, integrasi, sinkronisasi, dan sinergi antar multi pihak dalam mencapai tujuan pengelolaan DAS.

Andree Ekadinata, S.Hut., M.Si., Koordinator Tim Paket Kerja 6-Pengelolaan Pengetahuan, Peat IMPACTS, ICRAF Indonesia, yang juga berkesempatan menyampaikan paparannya mengenai “Membedah Fungsi dan Peran Penting Gambut bagi Kehidupan dan Penghidupan”. Menjelaskan apa itu gambut dan fungsinya, degradasi gambut, memulihkan gambut, dan mengelola gambut untuk tidak rusak lagi, sekaligus menumbuhkan pemahaman dan kecintaan terhadap gambut.

Andree juga menjelaskan mengenai apa itu restorasi gambut. “Restorasi gambut adalah proses Panjang untuk mengembalikan fungsi ekologi lahan gambut dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang terkena dampak dari lahan gambut yang terdegradasi.” ujarnya.

Penyampaian kedua materi tersebut dimoderatori oleh Wakil ketua Forum DAS, Dr. Ir. Karlin Agustina, M.Si., yang mengantarkan peserta lokakarya kepada diskusi yang lebih mendalam, mengenai upaya penyusunan kurikulum muatan lokal Pendidikan lingkungan DAS dan Gambut di Kabupaten Banyuasin, yang akan dilakukan selama dua hari ini.

Lewat acara ini diharapkan tercipta dukungan dari instansi terkait dan terbentuknya tim gugus tugas penyusunan draft kurikulum dan bahan ajar pendidikan lingkungan, DAS dan gambut Kabupaten Banyuasin. Dengan begitu generasi muda Sumatera Selatan akan memiliki fondasi untuk menjaga lingkungannya secara berkelanjutan dari berbagai faktor penyebab kerusakan lingkungan.