Top

Saatnya menebar kepedulian pada gambut Kubu Raya lewat edukasi di usia dini

Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Sebuah ungkapan untuk tidak menyia-nyiakan waktu dalam berbuat kebaikan yang membawa manfaat untuk kita maupun untuk orang banyak. Dalam hidup, kita selalu dihadapkan pada berbagai tantangan, yang harus kita hadapi. Begitu juga dengan perhatian dan welas kasih kita terhadap lingkungan sekitar, dimana hidup kita bergantung.  Usia dini adalah masa yang penting untuk membekali anak dengan pengetahuan tentang hal tersebut. Usia ini optimal untuk menanamkan kesadaran dan kepedulian untuk melestarikan lingkungan dan ekosistem. Oleh karenanya, mengenalkan lingkungan sekitar, termasuk didalamnya lahan gambut adalah salah satu hal penting yang perlu ditanamkan pada berbagai kalangan masyarakat baik usia dewasa atau anak-anak.

Provinsi Kalimantan Barat adalah salah satu provinsi yang kerap kali dihadapkan pada permasalahan penanganan lahan dan hutan. Permasalahan tersebut meliputi kebakaran hutan dan lahan termasuk yang ada di lahan gambut, erosi lahan, deforestasi, dan sebagainya.  Permasalahan tersebut mau tidak mau mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat, baik yang berada di sekitar kawasan maupun di luar kawasan hutan. Permasalahan tersebut bertambah kompleks dengan adanya keragaman faktor penyebab, termasuk didalamnya budaya dan kebiasaan budidaya pertanian dan pembukaan lahan.

Sejalan dengan itu, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Kubu Rayasebagai bagian dari Provinsi Kalimantan Barat bersama Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dan ICRAF-Indonesia berinisiatif untuk menginisiasi pendidikan tentang gambut dan lingkungan dengan menjajaki adanya muatan pembelajaran berbasis materi lokal melalui berbagai metode pembelajaran yang sesuai dengan konteks Kubu Raya.

Dalam lokakarya “Peningkatan Kapasitas dan Pengarusutamaan Kurikulum Pendidikan lingkungan (Gambut) Sebagai Materi Muatan Lokal di Kabupaten Kubu Raya”, tanggal 8-9 November 2021 yang lalu, bertujuan untuk membangun kesamaan persepsi pemangku kepentingan terkait edukasi gambut dan lingkungan. Sebagai bagian dari kegiatan lokakarya, dikumpulkan berbagai ide, saran dan masukan terkait proses penyusunan kurikulum dan bahan ajar gambut bagi generasi muda di Kubu Raya. Muatan lokal sebagai instrumen edukatif diusulkan menjadi pilihan. Saat ini kurikulum muatan lokal di Kubu Raya belum memasukkan pendidikan lingkungan khususnya yang terkait dengan perlindungan dan pengelolaan gambut.  Hal ini perlu segera dimulai dengan menerapkannya melalui muatan lokal pada pendidikan formal dengan memperhatikan berbagai kerangka regulasi yang ada. Lewat kegiatan ini diharapkan terbangun dukungan dari instansi terkait, yang kemudian dituangkan ke terbentuknya tim penyusunan draft kurikulum dan bahan ajar pendidikan gambut dan mangrove di Kabupaten Kubu Raya. ICRAF sebagai mitra Kabupaten Kubu Raya menempatkan bahwa kegiatan bersama para pihak ini merupakan rangkaian kegiatan yang dijalankan untuk mendukung #PahlawanGambut dalam program Peat-IMPACTS Indonesia dengan dukungan dana dari BMU-IKI. Proyek ini berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), khususnya TPB-13 (Aksi Iklim) dan TPB-15 (Kehidupan Darat).

Dr. Sonya Dewi, Direktur ICRAF Indonesia, dalam sambutannya mengatakan “ICRAF mempunyai mandat untuk melaksanakan kegiatan riset terkait pengelolaan lanskap dan ilmu pengetahuan agar dapat dipakai dan dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat di tingkat lokal, regional, global. Proyek Peat-IMPACTS memfokuskan diri di lahan gambut, dengan mengetengahkan peningkatan kapasitas para pemangku kepentingan dalam mengelola lahan gambut di Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Kubu Raya. Dalam kita mengelola kawasan tentunya diperlukan adanya pemahaman bersama, kawasan hidrologis gambut seperti apa, fungsinya apa, ekosistemnya seperti apa. Hal ini perlu dilakukan pemahaman diawal baik jangka pendek, jangka tengah maupun jangka panjang”.

Beliau juga menambahkan, lokakarya ini penting untuk menyasar generasi muda yang keterlibatannya akan dilakukan hari ini, dan dampaknya dirasakan di masa depan nanti. Generasi muda adalah bagian dari staheholder yang sangat penting untuk memahami muatan lokal untuk menyasar pemanfaatan tata kelola ekosistem gambut dan mangrove dan berperan dalam inisiatif ditingkat global.

“Hal ini bisa berdampak pada kesempatan perbaikan ekonomi bagi generasi muda dengan mengisi kebutuhan tenaga kerja di masa depan yang saat ini sering disebut sebagai “Green Jobs”, ujar Sonya.

Pada akhirnya Dr Sonya Dewi menyampaikan: “Kami menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh dari Bapak Bupati Kubu Raya untuk mempersiapkan Kabupaten Kubu Raya sejak dini dalam mengarusutamakan pengetahuan tentang gambut dan mangrove.  Kami sampaikan juga apresiasi juga kepada Kepala Dinas Pendidikan yang mampu mendorong apa yang kita pelajari dan dihasilkan nanti, untuk direplikasi ke daerah-daerah lain, juga ke provinsi lain lewat BRGM.” Inisiasi kegiatan ini disambut baik oleh Dr. Ir. Suwignya Utama, MBA., Kepala Kelompok Kerja Edukasi dan Sosialisasi BRGM, yang menyampaikan beberapa program yang telah dan sedang dilakukan oleh BRGM. “Seperti yang telah kita ketahui bersama, BRGM mempunyai pendekatan 3R, kami juga mempunyai program penguatan kelembagaan masyarakat dengan membangun desa-desa mandiri peduli gambut dan mangrove, dengan menggandeng pihak desa untuk pemeliharaan fungsi lingkungan dan sosialisasi edukasi. Sehingga masyarakat bisa memahami pentingnya melindungi gambut dan mangrove.”

“Tentunya BRGM dan ICRAF sudah sejalan dan membuka kolaborasi untuk mendorong aspek edukasi ini agar dapat masuk ke aspek pendidikan di Kabupaten Kubu Raya, yang tentunya diinisiasi melalui lokakarya pada hari ini. Kita perlu tingkatkan kesadaran dan membangun sikap positif generasi muda untuk membangun perilaku menjaga lingkungan (gambut dan mangrove). Aspek generasi muda perlu kita kawal dan kita dorong sejak awal, dan tentunya masuk ke dalam kurikulumnya,” ujar beliau.

Saatnya menanjak untuk gambut Kubu Raya

Bupati Kubu Raya, H. Muda Mahendrawan S.H., M.Kn., dalam sambutannya menyampaikan “Masyarakat Kabupaten Kubu Raya sebetulnya sudah “terkepung” dengan gambut. Para pendidik pun sudah cukup paham mengenai hal ini, utamanya bagi mereka yang tinggal di lahan gambut. Gambut pun sudah menjadi bagian dari hidup kita. Kegiatan ini juga mendapatkan dukungan dari Badan Restorasi Gambut dan Mangrove/BRGM. “M” disini juga berarti “Menanjak” ya Bapak/Ibu, supaya kita dapat melihat hal-hal penting dari perspektif yang lebih luas. Sehingga kebijakan dan kebajikan bisa kita teropong secara langsung dan sasaran pengarusutamaan akan lebih terarah, khususnya untuk pengarusutamaan edukasi ini ke tingkat TK, SD, dan selanjutnya.”

Langkah kongkrit untuk rehabilitasi dan konservasi akan kita harapkan dari para generasi muda kita yang tertanam dalam pikiran mereka “mangrove adalah masa depan”. Sebagai sumber pangan, peradaban unggul, dan sumber kekuatan yang ada di desa-desa. Melihat literasi gambut dan mangrove menjadi langkah-langkah kreatif dan mengandung solusi. Untuk menciptakan berbagai peluang termasuk ekowisata, wisata desa, dan menyangkut komoditi-komoditinya, jahe kelapa, kopi, pinang, dari sungai juga, sehingga dapat terawat dan terkelola dgn baik. Tegas Pak Bupati.

Kami semua merespon cepat keterlibatan ICRAF dan BRGM untuk bisa ikut bersama-sama di Kubu Raya, memperkuat semua aspek lingkungand an gambut yang akan menjadi unsur pendidikan. Hasil riset, verifikasi dan inventarisasi, termasuk best practice melalui Taman Baca, Rumah Baca, akan terus kita perkuat dengan menggandeng Lembaga-lembaga non-formal. Kesetaraan gender, budaya perempuan sangat signifikan untuk memperkaya literasi terkait gambut dan mangrove. Harapan besar ini disampaikan Pak Muda Hendrawan, sekaligus membuka lokakarya ini.

Pemahaman lebih lanjut mengenai gambut dan mangrove dipaparkan pada sesi paparan materi. Terdapat empat materi utama yang disampaikan secara rinci oleh Drs. Sugeng Hariadi, M.M., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat, mengenai “Pentingnya Penguatan Karakter dalam Muatan Lokal (Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan)”. Beliau menjelaskan mengenai pentingnya tujuan kegiatan ini, selain memperkenalkan peserta didik kepada lingkungannya, juga sebagai penguatan pembangunan karakter peserta didik, sehingga dapat menjadi bekal kemampuan dan ketrampilan untuk penghidupan dimasa depan. Bahkan juga mungkin untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Penguatan ini bukan hanya dari kita ke anak-anak, namun anak-anak juga bisa mengingatkan kepada kita semua, sebagai orang tuanya, para pendidiknya serta masyarakat yang lebih luas. “Kami mendukung lokakarya ini untuk memberi pemahaman lanjutan kepada masyarakat terutama anak-anak agar menyadari betapa pentingnya mengelola dan melestarikan lingkungan. Harapannya gambut dan mangrove akan semakin lestari, saling menjaga dengan tetap mengambil manfaatnya”, tambah Drs. Sugeng Hariadi.

Pemaparan dilanjutkan oleh Roby Royana, S.Hut, M.Si., Tenaga Ahli Kelompok Kerja Kerjasama, Hukum dan Hubungan Masyarakat BRGM, yang menyampaikan materi tentang “Membedah Fungsi dan Peran Penting Gambut dan Mangrove bagi Kehidupan dan Penghidupan”. Materi tentang “Kondisi terkini Gambut dan Mangrove dan Pentingnya Muatan Lokal”disampaikan oleh Prof. DR. Dwi Astiani, Guru Besar Manajemen Kehutanan Fakultas Kehutanan, Universitas Tanjungpura. Materi terakhir pada hari pertama lokakarya ini disampaikan oleh Sri Nugroho Jati, M.Psi., Psikolog, Universitas Muhammadiyah Pontianak yang menyampaikan materi tentang “Materi Pendidikan Dasar Lingkungan dalam Perspektif Psikologi Pendidikan”.

Peserta lokakarya yang hadir berasal dari Pemerintah Kabupaten Kubu Raya dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, diantaranya: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat dan Kabupaten Kubu Raya, Bappeda Provinsi Kalbar dan Kab. Kubu Raya, Dewan Pendidikan Kab. Kubu Raya, pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, akademisi mitra pembangunan, CSO dan media. Pertemuan ini juga dihadiri secara langsung oleh Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM).

Potensi penerapan sistem agroforestri di Desa Sungai Asam

Indonesia dengan kekayaan alamnya membuat kita bersyukur bahwa selama ini semesta begitu baik karena telah memberikan semua kebutuhan hidup yang kita perlukan. Kabupaten Kubu Raya merupakan kabupaten dengan sebagian besar wilayahnya terdiri dari kawasan gambut. Terutama di Desa Sungai Asam, yang memiliki sekitar 80% wilayahnya adalah lahan gambut. Gambut adalah salah satu kekayaan yang patut untuk kita jaga dan kita kelola sebaik mungkin karena peran dan fungsinya yang begitu penting dan dapat memberikan manfaat. Namun saat ini gambut juga menghadapi banyak tantangan. Gambut terancam akan terdegradasi dan dapat menyebabkan bencana ekologis, serta menurunkan produktivitas lahan. Oleh karena itu, upaya pengelolaan dan pemanfaatan lahan gambut yang ramah lingkungan dan berkelanjutan perlu terus dilakukan.

Setelah berkunjung ke beberapa desa, saya, yang tergabung dalam program Peneliti Muda Gambut (PMK) Kalimantan Barat, ICRAF Indonesia, melihat adanya potensi dari pemanfaatan lahan gambut masyarakat di Desa Sungai Asam. Pemanfaatan lahan gambut menjadi kebun campur atau agroforestri mampu menjawab tantangan perubahan iklim yang saat ini terjadi dengan tetap mempertahankan kelestarian lingkungan terutama pada keanekaragaman hayati yang dilihat dari berbagai jenis komoditas tanaman.

Foto 1. Agroforestri Desa Sungai Asam

Agroforestri adalah sistem penggunaan lahan yang mengkombinasikan tanaman pepohonan dengan tanaman pertanian, yang bertujuan untuk memberi manfaat baik ekonomi, sosial, maupun lingkungan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Melihat potensi yang ada, penerapan system agroforestri di lahan gambut yang dikelola masyarakat dapat menjadi opsi agar lahan gambut tetap dapat menjaga tingkat produktivitasnya secara luas. Potensi penerapan sistem agroforestri di Desa Asam inipun dapat menjadi menjadi opsi pengelolaan lahan gambut. Agroforestri dapat dilakukan pada kawasan gambut yang terdegradasi dengan fungsi pemanfaatan budidaya. Sistem agroforestri pada umumnya dilakukan pada kawasan gambut dengan kondisi kering sehingga dalam pengelolaanya agroforestri memanfaatkan jenis- jenis tanaman tertentu yang dapat beradaptasi pada kondisi lahan gambut. Dalam pengembangan agroforestri, perlu adanya identifikasi kesesuaian jenis komoditas tanaman dan lahan yang berpeluang untuk tumbuh serta meningkatkan produktivitas.  Sebagai contoh, masyarakat di Desa Sungai Asam yang mengelola lahan pertaniannya yang merupakan di lahan pertanian kering. Salah satu opsi pendekatan yang dapat dilakukan yaitu melalui observasi langsung di lapangan, untuk mengidentifikasi jenis tanaman yang sesuai untuk lahan pertanian kering, seperti terlihat pada foto 2.

Foto 2. Pertanian lahan kering di Desa Sungai Asam

Pengembangan agroforestri dapat menjadi sumber penghidupan untuk membantu pemanfaatan lahan menuju kesejahteraan ekonomi masyarakat di Kabupaten Kubu Raya, khususnya di Desa Sungai Asam. Masyarakat Desa Sungai Asam sebagian besar adalah petani yang memanfaatkan lahan di sekitar pekarangan rumah dan kebun yang mudah untuk dijangkau. Lahan gambut yang dijadikan agroforestri ini ditanami dengan berbagai jenis tanaman yang menjadi kebutuhan masyarakat desanya, seperti pisang, ubi kayu, jahe, nanas dan jenis tanaman lainnya yang dapat diperjual belikan ke pengepul atau pasar tak terkecuali budidaya kopi yang saat ini menjadi primadona dikalangan anak muda.

Kopi merupakan produk yang dapat dipasarkan secara lokal. Selaras dengan budaya masa kini yang sedang menjamur di kalangan penikmat kopi generasi muda di Pontianak, dan tentunya akan menjadi daya tarik tersendiri apabila masyarakat Kalimantan Barat, khususnya Pontianak dapat juga menikmati kopi lokal dari Kubu Raya. Generasi muda milenial dapat mencintai dan mengenal bahwa dengan pengelolaan lahan gambut yang tepat kita dapat menikmati hasilnya dengan penuh kebanggaan. Di tengah situasi pandemi saat ini jahe juga baik untuk dikonsumsi dan jika membutuhkan itu kita tidak perlu membeli jauh-jauh karena dari lahan gambut di Desa Sungai Asam, masyarakatnya juga mampu menghasilkan jahe. Tentunya masih banyak sekali manfaat dan potensi dari pengelolaan lahan gambut yang belum dikembangkan secara optimal di Desa Sungai Asam.