Top

Pontianak Sediakan Ruang Edukasi Lewat Pendirian Gedung Galeri Hasil Hutan

Bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat yang ke-65 tahun, yang mengusung tema “Kalbar Tumbuh, Tangguh dan Sejahtera”, Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji, SH., M.Hum, meresmikan “Gedung Galeri Hasil Hutan” yang bertempat di Jalan Veteran Kota Pontianak, pada Jumat, 28 Januari 2021.

Dalam sambutannya, Bapak Sutarmidji menyatakan “Gedung Galeri Hasil Hutan ini diresmikan sebagai ruang edukasi yang bermanfaat bagi masyarakat Untuk lebih mengenal dan mengetahui berbagai produk hasil hutan khas Kalimantan Barat. Selain itu nantinya di area halaman gedung juga akan ditanami berbagai jenis pohon, seperti belian, bengkirai, dan pelai sehingga masyarakat yang berkunjung dapat memperoleh pengetahuan baru.” 

Pemerintah Kalimantan Barat mendukung kehadiran galeri hasil hutan,karena dinilai  akan menjadi sarana untuk menambah wawasan dengan lebih mengenal kekayaan hutan bagi masyarakat di perkotaan, salah satunya mengenai jenis-jenis tanaman kayu yang dikembangkan di Kalimantan Barat. Kehadiran gedung galeri hasil hutan ini juga diupayakan untuk menjadi media promosi sekaligus fasilitas ekowisata bagi masyarakatnya untuk dapat melakukan aktivitas olahraga sembari menikmati udara segar hutan kota dan minum kopi. Masyarakat juga diberikan kesempatan untuk terlibat dalam pengelolaan gedung, sehingga dapat mendorong penguatan ekonomi produktif.

Acara peresmian Galeri Hasil Hutan ini juga dibarengi dengan kegiatan pameran hasil hutan yang diikuti oleh 17 mitra pembangunan/NGO, perusahaan penyedia jasa, pemerintahan, koperasi, dan KPH di seluruh wilayah Kalimantan Barat. Berbagai produk yang dipamerkan  dan dijual berupa hasil kerajinan tangan hasil karya masyarakat desa seperti ukiran dari kayu, kain tenun yang menggunakan pewarna alami, dan produk fashion lainnya. Kekayaan produk seperti rotan, madu, gula aren, dan olahan makanan yang termaksud produk hasil hutan bukan kayu (HHBK) juga banyak dijajakan.

World Agroforestry (ICRAF) Indonesia turut berpartisipasi dalam kegiatan ini, dengan menampilkan beberapa publikasi hasil penelitian terkait agroforestri, produk madu, juga produk informasi lainnya mengenai kegiatan ICRAF di Indonesia. Para pengunjung kebanyakan adalah mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura yang tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai ICRAF dan ingin mencari referensi buku untuk penelitian tugas akhir. Tim ICRAF juga mengadakan games berhadiah yang mendapat respon baik dari pengunjung.

Selama pameran berlangsung terlihat antusiasme dari masyarakat bahkan mereka membeli berbagai produk yang dijual.  Kegiatan ini mendapatkan dukungan dari KPH dan UPT Kementrian Lingkungan hidup dan Kehutanan yang membagikan beberapa jenis tanaman secara gratis kepada pengunjung, seperti bibit jengkol, petai dan durian. Hal ini bertujuan agar masyarakat semakin bersemangat untuk melestarikan lingkungan hidup, mengelola lahan pekarangan serta berkontribusi dalam mengurangi dampak pemanasan global dan perubahan iklim.

Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 28 – 30 Januari 2021 yang lalu dan dibuka untuk umum.

Penulis: Nurhayatun Nafsiyah dan Sekar A Maharani

Latar belakang pendidikan bukan penghalang untuk tidak berkontribusi mencintai lahan gambut

Saya, salah satu Peneliti Muda Gambut Kalimantan Barat ingin berbagi pengalaman disaat turun ke lapang. ICRAF Indonesia melalui program Peat-IMPACTS memfasilitasi para peneliti muda gambut untuk mengunjungi 31 desa yang tersebar di wilayah Kabupaten Kubu Raya. Masing masing desa kami kunjungi selama 6-7 hari.

Saya sangat bahagia dan bersyukur dipercaya oleh ICRAF Indonesia untuk dapat bergabung, berkontribusi, dan banyak sekali ilmu baru yang saya dapatkan selama turun lapang. Saya yang memiliki latar belakang keilmuan kimia, yang biasanya melakukan penelitian hanya di dalam laboratorium, kali ini sangat menikmati melakukan kegiatan penelitian dengan terjun secara langsung bersama masyarakat. Saya mulai belajar bagaimana sistem pertanian yang dikelola oleh para petani yang sebelumnya tidak pernah saya dapatkan selama dibangku kuliah.

Selama turun lapangan, banyak sekali hal hal menarik yang kami peroleh, bagaimana masyarakat mampu bertahan hidup diatas lahan gambut, Mulai dari pengelolaan lahan, tanaman apa saja yang dibudidayakan, kendala yang dihadapi, serta bagaimana pengolahan produk hasil pertanian.

Dalam aksi lapang, seluruh peneliti muda gambut Kalimantan Barat yang terdiri dari 55 orang langsung berkunjung ke beberapa lokasi lahan pertanian masyarakat. Mereka dengan senang hati menerima kunjungan kami dan berdiskusi bersama, bahkan ada yang membagikan hasil pertanian mereka kepada kami para PMG. Suasana dan ramahnya masyarakat desa telah membuat kami terbiasa dan merasa kekeluargaan.

Seperti yang telah kami ketahui, lahan gambut yang luas, ada sebagian lahan yang dapat dikelola untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, dan ada pula yang dijaga kelestariannya sebagai lahan hutan lindung. Beberapa desa yang kami kunjungi dan memiliki Hutan Lindung adalah di Desa Muara Baru, Desa Betuah, dan Desa Tanjung Beringin yang masih terjaga dengan baik hingga saat ini.

Masyarakat umumnya mengelola lahan gambut dengan membudidayakan tanaman, seperti karet, kelapa sawit, jahe, nanas, buah buahan, kopi, cabai, durian, dll. Proses pembukaan lahan yang ditemukan di beberapa desa mayoritas masih dilakukan dengan cara tradisional dengan menebas dan mencangkul. Pembukaan lahan untuk budidaya tanaman tertentu seperti jahe, dilakukan petani dengan cara mengupas lapisan gambut terlebih dahulu agar jahe dapat tumbuh dengan baik.

Tantangan yang umumnya dihadapi oleh petani dilahan gambut adalah keadaan tanah yang asam sehingga memerlukan perlakuan khusus dengan pemberian dolomit untuk memperbaiki keadaan tanah, faktor iklim yang ekstrim, dan serangan hama penyakit. Untuk budidaya tanaman dilahan gambut perlu adanya pembuatan parit dan sekat kanal untuk mejaga tinggi muka air tanah.

Keaktifan kelompok tani didesa akan sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan sistem usaha tani di desa. Sebagai contoh, Desa Sungai Asam sudah ada kerjasama kelembagaan dengan kelompok petani perempuan untuk pengolahan produk turunan dari nanas menjadi keripik, dodol, dan selai nanas. Dari Desa Kubu juga sudah ada kelompok tani yang mengolah nira kelapa menjadi gula semut dan gula bata. Beras dari Desa Sungai Terus, Kecamatan Kubu yang dikelola di lahan pasang surut, sudah memiliki contoh pemasaran yang baik, yaitu dengan adanya dukungan dari Balai Penyuluh Pertanian. Beras yang dipasarkan sudah memiliki merk dagang, izin usaha, dan pemasaran yang sudah menyebar ke beberapa perusahaan disekitar desa.

Di Desa Dusun Loncek Teluk Bakung, masyarakatnya membentuk dua kelompok tani, yaitu kelompok tani perempuan dan kelompok tani milenial, yang menggabungkan pola pertanian modern dan tradisional. Desa Tembang Kacang juga sudah memiliki kelompok petani milenial. Pelibatan para petani milenial dalam kelompok tani ini, diharapkan para milenial akan bersemangat untuk kembali bertani.