Top

Membangun Kemitraan Bersama FORUM DAS untuk pengelolaan gambut dan DAS yang lebih baik di Sumatera Selatan

ICRAF Indonesia bersama para mitra telah membantu Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan untuk menyusun Rencana Induk Pertumbuhan Ekonomi Hijau Sumatera Selatan yang kemudian telah diterjemahkan menjadi Peraturan Gubernur Sumatera Selatan No. 21/2017 tentang Rencana Induk Pertumbuhan Ekonomi Hijau Provinsi Sumatera Selatan. Untuk mewujudkan cita-cita pertumbuhan hijau, sejak tahun 2015 ICRAF Indonesia bekerjasama dengan para pemangku kepentingan di Sumatera Selatan menjalankan berbagai aktivitas yang bermuara pada penguatan kapasitas para pemangku kepentingan untuk pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan bentang lahan berkelanjutan. Diantaranya melalui kajian terhadap potensi restorasi bentang lahan dan perencanaan restorasi ekosistem gambut. Forum Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Forum DAS) Sumatera Selatan selalu menjadi mitra kunci bagi ICRAF Indonesia dalam menjalankan berbagai bentuk proses penguatan kapasitas pemangku kepentingan di Sumatera Selatan.

Pada tahun 2021-2025, ICRAF Indonesia tetap berkomitmen untuk melakukan pendampingan teknis dan penguatan kapasitas di Sumatera Selatan, kali ini pada aspek pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan bentang lahan berkelanjutan melalui kesetaraan gender, edukasi lingkungan dan kerjasama multipihak, melalui perencanaan kegiatan strategi yang saling memperkuat misi masing-masing lembaga di Sumatera Selatan. Forum Koordinasi Pengelolaan DAS tingkat Provinsi di Sumatera Selatan, Forum DAS Sumsel memiliki peranan strategis dalam penyelenggaraan pengelolaan DAS sesuai dengan Peraturan Daerah No.5 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Terpadu. Forum DAS Sumsel ditetapkan melalui Surat Keputusan Gubernur Sumatera Selatan No.: 85/KPTS/DISHUT/ 2016 tanggal 21 Januari 2016, dan penetapan kepengurusan baru melalui Surat Keputusan Gubernur Sumatera Selatan No.: 271/KPTS/DISHUT/2021.

Tujuan utama dari kerjasama yang akan dilakukan oleh ICRAF Indonesia dan Forum DAS Sumatera Selatan adalah terciptanya penguatan kapasitas para pemangku kepentingan di Sumatera Selatan untuk melakukan pengelolaan bentang lahan berkelanjutan di Sumatera Selatan. Dengan rincian tujuan khusus yang ingin dicapai adalah sebagai berikut: (1) Edukasi lingkungan, terutama DAS dan lahan gambut, bagi generasi muda di Sumatera Selatan melalui pengarusutamaan materi lingkungan ke dalam muatan lokal pendidikan dasar, menengah dan lanjutan; (2) Perencanaan pengelolaan lahan gambut yang lebih baik melalui implementasi Peraturan Daerah No.1/2018 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut; (3) Penguatan kerjasama multipihak antara pemerintah, swasta dan masyarakat sipil untuk pengelolaan bentang lahan berkelanjutan; (4) Pengarusutamaan kesetaraan gender dalam pengelolaan DAS dan bentang lahan berkelanjutan; dan (5) Penyiapan dan fasilitasi terbentuknya kelembagaan/Tim Kerja Bersama sebagai pelaksana Kesepakatan Peningkatan Penghidupan Berwawasan Lingkungan (KP2BL) di enam desa contoh.

Keempat tujuan khusus sebagaimana diuraikan diatas memiliki terbagi ke dalam lima ruang lingkup dengan detail rencana kegiatan dan keluaran sebagai berikut:

  1. Pengelolaan pengetahuan dan edukasi masyarakat tentang pengelolaan DAS terutama lahan gambut secara berkelanjutan di Sumatera Selatan. Hal ini dilakukan melalui: (a) penyelenggaraan bersama berbagai event untuk pengelolaan lahan gambut; (b) mengelola bersama basis pengetahuan digital tentang pengelolaan lahan gambut; (c) merancang dan membangun bersama kurikulum muatan lokal untuk pengelolaan lahan gambut;
    Keluaran Utama: Kurikulum pendidikan pengelolaan DAS terutama lahan gambut beserta rangkaian kegiatan dan bahan ajar untuk proses edukasi masyarakat di Sumatera Selatan.
  1. Penyusunan rencana pengelolaan lahan gambut berkelanjutan di Sumatera Selatan yang dilakukan melalui: (a) fasilitasi penguatan komitmen daerah untuk menyusun Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut (RPPEG) di tingkat provinsi sebagai perwujudan Perda No.1 tahun 2018 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut; (b) fasilitasi forum multipihak untuk mengarusutamakan pengelolaan lahan gambut kedalam perencanaan pembangunan formal pemerintah ditingkat kabupaten dan provinsi; (c) fasilitasi penyusunan intervensi kebijakan terkait restorasi, PES, REDD+ and strategi adaptasi, dan publicprivate-partnerships, (d) mendukung kegiatan penyusunan RPPEG di tingkat Kabupaten.
    Keluaran Utama: Proses penyusunan RPPEG yang partisipatif dan mampu memperkuat kapasitas para pemangku kepentingan di Sumatera Selatan.
  1. Mengusung bersama konsep pengelolaan bentang lahan berkelanjutan dengan membentuk dan mengaktifkan platform kerjasama multipihak di Sumatera Selatan yang meliputi Pemerintah Daerah, akademisi, organisasi masyarakat sipil dan sektor swasta.
    Keluaran Utama: Pengaktifan Kembali forum dan platform kerjasama multipihak untuk pengelolaan bentang lahan berkelanjutan dan berketahanan di Sumatera Selatan
  1. Pengarusutamaan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dalam peningkatan pengetahuan dan kesadaran dari unsur pemerintah, masyarakat-petani, dan LSM dalam mitigasiadaptasi perubahan iklim untuk mendapatkan akses lahan dan pengelolaannya secara berkelanjutan dalam linkgup pengelolaan DAS dan bentang lahan di Sumatera Selatan, termasuk didalamnya ekosistem gambut.
    Keluaran Utama: Proses penyelenggaraan pengarusutamaan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan secara partisipatif yang mampu memperkuat kapasitas para pemangku kepentingan di Sumatera Selatan.
  1. Memfasilitasi pembentukan Tim Kerja Bersama antara kelompok tani, Pemerintah Desa dan mitra kerja sesuai dengan bisnis model yang dikembangkan di masing-masing desa. Tim Kerja Bersama akan melibatkan pemangku kepentingan lainnya seperti aparat desa, Lembaga desa, aparat kecamatan, penyuluh, dinas-dinas terkait, pelaku usaha, pelaku pasar, perusahaan. Termasuk penguatan kapasitas kelembagaan desa.
    Keluaran utama: (1) Tersusunnya Tim Kerja Bersama pelaksana kegiatan KP2BL di masing-masing desa; (2) Kesepakatan di tingkat desa untuk melaksanakan kegiatan bisnis model dan tercantum secara formal dalam RKP Desa atau RPJMDes; (3) Kesepakatan antara kelompok tani/desa dengan mitra kerja sesuai dengan aturan/kebijakan mengenai kerjasama di tingkat desa (KP2BL).

Wiki Wentara: Wadah Generasi Muda Sumatera Selatan Berlatih Menjadi Kontributor Wiki Gambut

Sumatera Selatan merupakan Provinsi dengan luas lahan gambut kedua di Pulau Sumatera setelah Provinsi Riau, telah memiliki data, informasi dan pengetahuan tentang pengelolaan dan restorasi lahan gambut dalam jumlah banyak. Berbagai kajian telah dilakukan di Sumatera Selatan terkait pengelolaan lahan gambut, restorasi, pengelolaan air dan juga kondisi sosial ekonomi lahan gambut. Namun pengetahuan-pengetahuan ini belum sepenuhnya dapat digunakan secara optimal untuk merencanakan, menyelenggarakan, memantau dan mengevaluasi proses pengelolaan ekosistem gambut di Sumatera Selatan. Salah satu penyebabnya adalah tersebarnya pengetahuan dan informasi tersebut pada berbagai pemangku kepentingan.

Sebagai upaya terorganisir untuk mengumpulkan, mengkompilasi dan mensintesa pengetahuan serta informasi yang ada ke dalam satu sistem pengelolaan pengetahuan (Knowledge Management System) serta dapat digunakan secara luas untuk pengambilan keputusan terkait lahan gambut, telah dibangun WikiGambut yang bertujuan untuk menghimpun pengetahuan dan pembelajaran tentang gambut dan pengelolaan lahan gambut lestari yang saat ini tersebar di berbagai pihak. Wiki Gambut (https://pahlawangambut.id/berbagi) memiliki empat tema artikel utama yang dapat dikategorikan dalam: (1)sejarah pengelolaan lahan gambut; (2) dinamika penghidupan masyarakat lokal; (3)pemangku kepentingan dan penggunaan lahan; dan (4) kebijakan dan program pembangunan di lahan gambut. Pengembangan WikiGambut didukung penuh oleh program Peat IMPACTS melalui #PahlawanGambut.

Guna memperkuat dan mendukung tujuan tersebut, saat ini tengah dibentuk Komunitas WikiGambut Sumsel yang terbuka untuk para pemangku kepentingan dan latar belakang sebagai penutur WikiGambut. Komunitas ini sebagai wadah untuk dapat saling belajar dalam upaya menciptakan sebuah lingkungan kritis namun menyenangkan untuk berbagi pengetahuan. Komunitas WikiGambut Sumatera Selatan bercita-cita untuk menghimpun dan menyebarluaskan pengetahuan dan pemahaman tentang gambut ke semua kalangan masyarakat di Sumatera Selatan tanpa terkecuali.

Komunitas WikiGambut saat ini masih cukup muda dan masih perlu waktu untuk meperkuat segala aspek yang terkait di dalamnya. Selain itu dengan adanya tambahan banyak kontributor baru WikiGambut, masih diperlukan waktu untuk membiasakan interaksi antar anggota untuk menemukan rutinitas dan tradisi unik yang menjadi perekat hubungan antar anggota. Sehingga dibentuklah kepengurusan sementara dengan nama Wiki Wentara (Wentara, Sansekerta: Sementara). Karena kepengurusan yang dibuat secara terburu-buru akan menjadi kurang matang dan sulit mencapai tujuan.

Wiki Wentara adalah anggota komunitas WikiGambut yang dalam sementara waktu akan membantu komunitas untuk menjalankan kegiatannya, sehingga akan tercipta kearaban antar kontributor WikiGambut. Wiki Wentara bertugas untuk memimpin pembentukan  kepengurusan WikiGambut Sumsel periode 2021-2022 serta regulasi dan lini masa pemilihan dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan pendahuluan yang bertujuan memperkuat komunikasi dan koordinasi antar anggota komunitas.

Kegiatan rutin yang telah disusun oleh Wiki Wentara diantaranya;

  1. Bincang Gambut, webinar interaktif yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan jejaring para kontributor WikiGambut, melalui kegiatan rutin dengan menghadirkan beragam tema bahasan. Kegiatan ini mengundang berbagai narasumber dari anggota maupun dari luar komunitas untuk berbagi pengetahuan kepada para kontributor.
  2. EduWiki (Edukasi WikiGambut), adalah kegiatan pelatihan secara daring dengan berbagai macam pelatihan dan kegiatan peningkatan kapasitas untuk anggota WikiGambut yang relevan dalam menunjang penulisan/penyuntingan artikel untuk WikiGambut.
  3. Bedah Artikel, kegiatan penulisan, penyuntingan dan pembedahan artikel secara bersama-sama oleh kontributor WikiGambut, sehingga dapat mengasah kemampuan penulisan, mempererat hubungan antar kontributor dan menambah jumlah artikel sebagai bahan referensi di laman WikiGambut.
  4. Kontributor Cilik WikiGambut, kegiatan kunjungan ke beberapa sekolah di Banyuasin untuk memperkenalkan WikiGambut kepada siswa-siswi SD kelas 4-5 sebagai salah satu rujukan/literatur tentang gambut. Serta memperkenalkan gambut dan fungsinya kepada para siswa dengan cara yang menarik dan asik.
  5. Tunas Gambut, kegiatan memperkenalkan WikiGambut kepada pemuda/pemudi di beberapa desa di Banyuasin sebagai media berbagi informasi tentang gambut, sehingga mereka dapat bergabung sebagai kontributor yang mewakili masyarakat langsung dari lapangan atau pelaku utama. (AM)

Apa Yang Tidak Kita Bicarakan Ketika Kita Bicara Gambut

Beberapa kali lahan gambut mencuri perhatian publik dengan gegap gempita, bahkan sampai ke manca negara – seringkali dengan sebab yang salah.

Siapa tidak ingat bencana kebakaran hutan dan lahan gambut pada 2015 yang melalap hampir jutaan hektare lahan di Sumatera dan Kalimantan?  Beberapa tahun sebelumnya, pada 1997, hal serupa juga terjadi.

Gambut muncul di tajuk utama media besar saat bencana datang, sayang sekali ia lebih kerap ditampilkan sebagai kawasan yang ringkih dan sekaligus menyeramkan. Bagi masyarakat yang tinggal jauh dari lahan gambut, berita tentang kebakaran hutan dan lahan gambut hanya lewat sekejap dan selebihnya hidup berjalan seperti biasa.

Diskusi di awal Oktober mengangkat kawasan gambut sebagai subyek. Melihatnya dari sudut pandang budaya, sejarah dan kearifan lokalnya, Dosen Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Ir Irfan Junaidi, MSc dan penulis dan direktur artistik Teater Potlot Conie Sema membuat perbincangan tentang gambut menjadi romantis dan sentimental. 

Mereka hadir dalam acara Bincang Gambut yang diselenggarakan oleh komunitas WikiGambut, bagian dari program kegiatan Peat-IMPACTS, ICRAF Indonesia.

Dengan tajuk presentasi “Ruang Mimpi Seni, Budaya, dan Sejarah’, Yulian membuka paparan dengan kisah jasad-jasad di kawasan gambut di Eropa yang sampai sekarang masih tersimpan di salah satu museum di Belanda. Salah satu jasad dari kawasan gambut atau “bog bodies” yang sangat terkenal adalah pasangan kekasih yang diduga mengakhiri kisah cinta mereka di lahan gambut.

Umur jasad paling tua yang pernah ditemukan adalah dari jaman Mesoletikum atau sekitar 8,000 sebelum Masehi. Dipercayai, pada peradaban masa lalu lahan gambut juga dijadikan arena untuk mumifikasi jenazah.

“Jaman dulu praktik mengabadikan tubuh orang yang meninggal dilakukan di rawa gambut,” kata Yulian.  

Penguburan di rawa gambut membuat seluruh organ dan kulit akan utuh sedangkan tulang dan kandungan kalsiumnya akan terurai karena tingginya tingkat keasaman rawa gambut. Selain di Belanda, bog bodies banyak ditemukan di Denmark dan Skotlandia.

“Penemuan tersebut menjadi bukti rawa gambut sudah lama menjadi bagian peradaban. Lahan pertanian yang sangat maju dan kanal-kanal adalah buah reklamasi lahan gambut di dataran Eropa,” kata Yulian.

 

Budaya yang tumbuh

Di Indonesia, lanjut Yulian, rawa gambut lebih sering dilihat dari perspektif pertanian dan konservasi atau bagaimana menyelamatkan gambut dari degradasi lingkungan. Jarang sekali dibicarakan bagaimana melihat gambut dalam perspektif yang imajinatif dan dalam konteks sejarah serta budayanya.

“Kalau melihat catatan sejarah di Eropa rawa gambut bukan sesuatu yang baru. Berbeda dengan di Indonesia, gambut menjadi perbincangan ketika ada bencana. Bahkan BRG (Ed: sekarang BRGM) kan juga dibentuk karena banyaknya kebakaran lahan gambut,” imbuh Yulian. 

Lahan gambut tersebar dari dataran tinggi sampai ke pantai dan tidak terbatas di daerah pesisir. Di lereng gunung, cekungan bukit-bukit juga terdapat rawa gambut, kata Yulian.

Mengutip teori unsur kebudayaan Kluckhon, Yulian menyebut bahwa di rawa gambut ada tujuh unsur kebudayaan yang dimaksud dalam teori tersebut. 

Ketujuh unsur itu adalah bahasa, peralatan dan perlengkapan hidup manusia, mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi, sistem kemasyarakat, sistem pengetahuan, kesenian dan sistem kepercayaan.

“Dari unsur bahasa ada istilah rawang, kosa kata yang berasal dari lahan gambut untuk menyebut wilayah yang terendam di musim hujan dan kering di musim kemarau. Ada istilah sonor, cara menanam padi tanpa teknik budidaya pertanian,” imbuhnya 

Peralatan pertanian untuk lahan gambut juga berbeda. Misalnya, ukuran parang yang sangat panjang karena digunakan untuk menebas tanaman lunak dan bersifat rumput-rumputan, vegetasi khas di rawa gambut.

Kondisi hidrologis gambut juga berpengaruh pada mata pencaharian yang berhubungan dengan pertanian, kehutanan dan perairan.

Yulian menyebut suku Bugis membawa budaya parit dan pilihan tanaman pertanian ke pemukiman baru mereka di kawasan gambut Sumatera. Mereka juga membawa corak mata pencaharian serta sistem perdagangan yang berbeda.

Kebudayaan Bugis ini juga berpengaruh pada sistem kemasyarakatan, di mana pembagian kelompok wilayah rumah tangga tidak berdasarkan RT/RW tetapi dengan sistem parit.

“Ada kepala parit sebagai pemimpin di sepanjang parit atau kelompok masyarakat. Ini berbeda wilayah dataran kering lain di Sumatera Selatan, dimana ada istilah jungku atau jurai tue,” kata Julian.

Wilayah dengan lahan gambut juga memiliki kesenian yang dekat dengan manusia dan kondisi alam di mana mereka tinggal. Ada jejak-jejak sastra lisan yang berhubungan dengan pola pertanian dan siklus kehidupan.

“Masyarakat juga memiliki kepercayaan akan adanya penjaga di tempat-tempat yang tidak boleh diganggu, misalnya sumber mata air atau tempat ikan biasa bertelur karena mereka meyakini tempat-tempat itu harus dijaga. Ini bukan soal agama, tetapi mereka meyakini ada kekuatan ruh di situ,” kata Yulian.

 

Memberi panggung untuk gambut

Sementara itu Conie Sema mengatakan ada banyak inspirasi yang bisa digali dalam proses kreatif menulis karya sastra yang berlatar bentang alam dan etnoekologi. Karya-karya sastra dalam perspektif ekologi yang ia tulis banyak yang meminjam fenomena sosial budaya, sejarah, dan lingkungan masyarakat setempat.

“Rawa gambut menjadi pilihan fokus karya saya karena persoalan lingkungan dekat dengan kita. Dan sumber masalah lingkungan yang terbesar saat ini terutama di Sumatera Selatan ada di lahan gambut,” jelasnya.

Conie mengharapkan karya sastra terkait rawa gambut ini bisa menjadi bahan diskusi kritis untuk merepons kondisi perubahan bentang alam akibat pengelolaan kawasan gambut yang hanya berorientasi ekonomi.

“Ada harapan akan munculnya kesadaran bersama menyikapi kondisi faktual yang terjadi di lahan gambut akibat ekspansi ekonomi ekstraktif tersebut,” kata Conie.

Kesadaran ini bisa ditumbuhkan melalui pendekatan kebudyaan, menanamkan kembali nilai-nilai keluhuran keberlanjutan, kebersamaan, dan keterbukaan serta kesetaraan yang dimiliki masyarakat bahari Sriwijaya, yang hidup di lahan gambut dan di pesisir.

Ia juga berharap  karya sastra bisa memberi sumbangan literasi dan sumber pengetahuan untuk mengaktualisaskan nilai-nilai keluhuran masa lalu: “Karya sastra bisa menjadi sumber pengetahuan tentang bagaimana leluhur kita memperlakukan alam sebagai sumber kehidupan kita.”

Dalam salah satu karyanya, ‘Rawa Gambut’, Conie mendapuk gambut sebagai tokoh utama atau aktor yang berbicara sendiri tentang siapa dirinya dan apa yang terjadi padanya.

Karya lakon ini sudah dipentaskan keliling Sumatera Selatan, Jambi dan Riau.

“Di dalam lakon itu saya menyoroti ekspansi ekonomi di lahan gambut, kehidupan masa lalu atau peradaban di pesisir timur Sumatera, kebijakan negara dan program-programnya untuk gambut, serta perubahan perilaku masyarakat tradisional.”

Tidak luput dari sorotannya adalah degradasi lahan gambut dan punahnya keragaman hayati di kawasan lahan gambut.

 

Gambut adalah tanah harapan

Kedua pembicara menyepakati bahwa kehidupan di kawasan lahan gambut bukan ruang kosong yang terhenti karena semata-mata zaman yang bergerak dan modernisasi yang mengerus nilai-nilai leluhur.

“Dulu dosen saya bercerita kalau ada penjahat lari ke rawa gambut, biarkan saja tidak usah dikejar, nanti mati sendiri karena tidak ada kehidupan di situ,” kata Yulian memberi contoh bagaimana pandangan di masa lalu tentang gambut. Pandangan semacam itu tentu sudah berubah seiring dengan terjadinya Revolusi Hijau di tahun 1970an.

“Gambut adalah tanah harapan sehingga kepentingan ekonomi mendorong terjadinya degradasi lahan dan hilangnya tradisi atau budaya leluhur.”

Kawasan gambut bukan ruang kosong. Sekarang seharusnya ia dilihat sebagai area yang memiliki potensi ekonomi dan menjadi bagian dari peradaban masyarakat yang tinggal di situ. Dan tidak hanya dilihat sebagai kawasan produksi dan konservasi.

Senada dengan Yulian, Conie melihat mengurus kawasan gambut seharusnya secara holistik dan tidak hanya dalam perspektif ekonomi.

Masuknya modal besar untuk perkebunan secara masif, misalnya, telah berkontribusi pada tergerusnya nilai-nilai budaya warisan leluhur.

Yulian mengatakan: “Ada mitos-mitos tentang kakek rimau (harimau) dan puyang di sungai, buaya di rawa yang melarang penduduk untuk tidak menyakiti mereka. Tetapi karena demi kepentingan ekonomi, membuka lahan dan satwa penghuni rawa dan hutan kemudian dianggap sebagai ancaman yang harus dimusnahkan. Ini tidak boleh terjadi.”

Di masa lalu manusia berpikir bagaimana berinteraksi dengan alam sehingga melahirkan kebudayaan yang mendukung kelestarian alam. “Karena alam adalah sumber mata pencaharian, mereka melakukan kegiatan ekonomi dengan perspektif konservasi,” tambahnya.

Conie mengakui dia masih terus mengajak budayawan dan seniman untuk melihat gambut sebagai ruang kehidupan yang memiliki ruh.

“ Banyak nilai-nilai budaya dari rawa gambut yang sudah terdistorsi. Kegiatan di rawa gambut sekarang ini lebih banyak untuk kepentingan modal, investasi, dan ekonomi semata yang mendegradasikan nilai kemanusiaan dan lingkungan hidup. Ini yang harus kita pulihkan lagi,” tegas Conie.

EduWiki: Upaya Bersama Memperkuat Kapasitas Teknis Para Kontributor Wiki Gambut

EduWiki adalah kegiatan pelatihan daring untuk berbagai topik pelatihan dan kegiatan penguatan kapasitas bagi anggota WikiGambut yang relevan dalam menunjang penulisan/penyuntingan artikel untuk WikiGambut.

Komunitas WikiGambut Sumatera Selatan terbuka untuk semua pemangku kepentingan dan latar belakang, sejauh yang bersangkutan secara sukarela bersedia meluangkan waktunya untuk menjadi penutur WikiGambut. Komunitas ini adalah wadah untuk dapat saling belajar dalam upaya menciptakan sebuah lingkungan kritis namun menyenangkan untuk berbagi pengetahuan. Komunitas WikiGambut Sumatera Selatan bercita-cita untuk menghimpun dan menyebarluaskan pengetahuan dan pemahaman tentang gambut ke semua kalangan masyarakat di Sumatera Selatan tanpa terkecuali.

Sebagai salah satu upaya untuk memperkuat kapasitas kontributor, WikiGambut Sumatera Selatan menyelenggarakan kegiatan EduWiki (Edukasi WikiGambut). EduWiki adalah rangkaian pelatihan dan kegiatan peningkatan kapasitas untuk anggota WikiGambut guna menunjang kemampuan penulisan/penyuntingan artikel untuk WikiGambut. EduWiki terdiri dari beberapa seri, Seri-1: Pelatihan Jurnalisme Warga, Seri-2 Pelatihan Foto dan Video menggunakan HP, Seri-3: Cara melakukan wawancara dan keahlian berkomunikasi, dan Seri-4: Pelatihan dasar disain grafis atau infografis

EduWiki dapat diikuti oleh seluruh kontributor WikiGambut Sumatera Selatan yang terdiri dari pegawai lembaga pemerintahan, pegawai sektor swasta/korporasi, akademisi/pemerhati, lembaga swadaya masyarakat, jurnalis, mitra pembangunan daerah, petani dan masyarakat umum, serta untuk beberapa seri pelatihan terbuka juga untuk umum.

EduWiki Seri-1: Pelatihan Jurnalisme Warga telah dilaksanakan pada Tanggal 15 Oktober 2021, secara daring dengan narasumber kegiatan Pepih Nugraha seorang jurnalis senior dan pendiri Kompasiana.id. Tujuan dari EduWiki Seri-1: Pelatihan Jurnalisme Warga adalah peningkatan kapasitas kontributor dalam melakukan penulisan artikel pada laman WikiGambut dengan obyektif, sesuai prinsip jurnalistik dan self-sensor. Selain itu diungkapkan juga berbagai pengetahuan dasar tentang dunia digital, serta bagaimana memanfatkaan platform digital untuk kampanye, penyadartahuan dan advokasi tentang pelestarian gambut.

Menurut Curt Chandler dari Penn State University, Citizen Journalism merupakan kegiatan melaporkan berita yang dilakukan warga biasa, yang tidak dimaksudkan memperoleh uang tetapi memiliki minat pada satu topik tertentu. Pada kegiatan ini narasumber memberikan judul paparan dengan “Citizen Journalism: Niche Coverage” karena gambut merupakan hal yang unik, special dan cakupan/ceruk audience dan penulisnya khusus atau orang-orang tertentu. Rangkaian materi yang disampaikan adalah Prinsip jurnalistik (termasuk untuk melakukan self-sensor), Pengetahuan dasar tentang dunia digital dan cara optimal memanfaatkannya (termasuk literasi digital), serta ditutup dengan diskusi interaktif antara peserta dan narasumber.

Eduwiki Seri-2 Pelatihan Foto dan Video menggunakan gawai telepon genggam dilaksanakan pada Tanggal 5 November 2021, secara daring dengan narasumber Muzhar Apandi, S.IP, M.Si, TVRI Sumatera Selatan sekaligus Ketua Komunitas Mobile Journalism (MOJO) Palembang. Menurut mojo-manual.org, platform digital untuk pengembangan MOJO, mobile Journalism/jurnalisme seluler adalah bentuk penceritaan digital di mana perangkat utama yang digunakan untuk membuat dan mengedit gambar, audio, dan video adalah handphone (HP).

Tujuan dari EduWiki Seri-2 ini adalah peningkatan kapasitas kontributor dalam mengabadikan momen dalam bentuk foto dan video dengan menggunakan HP dengan kualitas file foto dan video yang baik serta sesuai dengan kaidah fotografi maupun video jurnalis. Sehingga foto dan video yang dihasilkan dapat diketahui oleh masyarakat secara luas, melalui laman WikiGambut.

Detail materi pelatihan  foto dan video dengan menggunakan HP menjadi (1) Pengetahuan dasar tentang pengambilan foto/video (tips penentian lokasi, angle, framing dan composing, storyboard); (2) Pengenalan pada peralatan yang digunakan/dibutuhkan; (3) Praktik dengan menggunakan aplikasi editing foto; dan (4) Praktik dengan menggunakan aplikasi editing video (add tittles, caption, logo, music). (AM)

Bincang Gambut

Bincang Gambut adalah kegiatan diskusi rutin yang dikemas dengan konsep webinar, dengan menghadirkan beragam tema bahasan, mulai dari keanekaragamn Hayati gambut, social, gender, penghidupan hingga budaya, dan sastra. Kegiatan ini mengundang berbagai narasumber dari anggota maupun dari luar komunitas untuk berbagi pengetahuan kepada para kontributor.

Tujuan kegiatan ini adalah peningkatan wawasan tentang gambut dan pengelolaannya serta perkembangan isu-ise maupun penelitian yang terkait. Melalui kegiatan ini para kontributor juga dapat mengembangkan jejaring dengan pegiat, peneliti dan komunitas di bidang lingkungan/gambut. Kegiatan Bincang Gambut juga diharapkan dapat mempererat hubungan antar kontributor WikiGambut Sumatera Selatan, serta memberikan pengetahuan baru yang dapat dituliskan ke dalam WikiGambut untuk menjadi bahan rujukan tambahan bagi masyarakat.

Bincang Gambut terdiri dari berbagai tema bahasan diantaranya, Seri-1: Gambut Sriwijaya dari Berbagai Perspektif, Seri-2: Gambut dalam Bingkai Sastra dan Budaya Sumatera Selatan, Seri-3: Keanekaragaman hayati gambut dan fungsinya bagi ekosistem, Seri-4: Sumber Pangan dari Gambut, Seri-5: Peran Gender dalam Pelestarian Gambut, dan Seri-6: Gambut dan Perubahan Iklim.

Bincang Gambut dilaksanakna secara daring dan dapat diikuti oleh kontributor WikiGambut Sumatera Selatan dan masarakat umum yang tertarik dengan isu-isu pembahasannya.

Bincang Gambut Seri-1: Gambut Sriwijaya dari Berbagai Perspektif, telah dilaksanakan pada tanggal 9 Juli 2021, dengan menghadirkan pembicara Budi Wiyana -Balai Arkeologi Sumatera Selatan (Gambut Dan Penelitian Arkeologi di Pantai Timur Sumsel), Taufik Wijaya-Mongabay Indonesia (Isu gambut Sumatera Selatan dari kacamata jurnalis), dan Ari Nurlia-BP2LHK Palembang (Perempuan dan Gambut). Melalui kegiatan ini diharapkan para kontributor dapat saling bertukar informasi mengenai sejarah, isu dan perkembangan penelitian gambut di Sumatera Selatan dari pakar dan anggota komunitas.

Gambar 1 Komponen perahu yang ditemukan di lahan gambut Pantai Timur Sumatera Selatan

Bincang Gambut Seri-2: Gambut dalam Bingkai Sastra dan Budaya Sumatera Selatan, dilaksanakan pada tanggal 8 Oktober 2021, dengan menghadirkan pembicara Connie Sema-Teater Potlot (Pengaruh Gambut dalam Proses Kreasi Sastra) dan Yulian Junaidi-Dosen Agribisnis Universitas Sriwijaya (Bagaimana Lahan Gambut Mempengaruhi Budaya?). Dengan mengikuti kegiatan ini kontributor WikiGambut diharapkan dapat meningkatkan wawasan tentang gambut dalam budaya dan sastra, dan pengembangan jejaring dengan pegiat, peneliti dan budayawan yang bergerak di bidang lingkungan dan gambut di Sumatera Selatan.

Gambar 2 Poster Bincang Gambut Seri-2

Bincang Gambut Seri-2: Gambut dalam Bingkai Sastra dan Budaya Sumatera Selatan, dilaksanakan pada tanggal 8 Oktober 2021, dengan menghadirkan pembicara Connie Sema-Teater Potlot (Pengaruh Gambut dalam Proses Kreasi Sastra) dan Yulian Junaidi-Dosen Agribisnis Universitas Sriwijaya (Bagaimana Lahan Gambut Mempengaruhi Budaya?). Dengan mengikuti kegiatan ini kontributor WikiGambut diharapkan dapat meningkatkan wawasan tentang gambut dalam budaya dan sastra, dan pengembangan jejaring dengan pegiat, peneliti dan budayawan yang bergerak di bidang lingkungan dan gambut di Sumatera Selatan.

Bincang Gambut Seri-3: Keanekaragam hayati gambut dan perannya bagi ekosistem dilaksanakan pada tanggal 29 Oktober 2021 dengan narasumber, Dr. Arum Setiawan, M.SI-Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Sriwijaya (Gajah, hama atau sahabat lahan gambut?), Arfan Abrar, S.Pt., M.Si., Ph.D-Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya (Mengenal Kerbau Rawa Pampangan, ikon rawa gambut Sumatera Selatan), dan Fatahul Azwar, S.Hut., M.Si.-Peneliti Madya, BP2LHK Palembang (Potensi Kantong Semar dari lahan gambut sebagai tanaman hias). (AM)

Gambar 3 Sesi diskusi Bincang Gambut Seri-3 yang dilakukan secara daring namun peserta masih sangat bersemangat dan antusias

Menanam Bersama Benih Cinta Lingkungan, DAS dan Gambut Sejak Usia Dini Lewat Muatan Lokal Pelajaran Sekolah

Tak kenal maka tak sayang, pepatah ini kerap kali diperdengarkan pada percakapan sehari-hari, untuk menyatakan apabila kita tidak mengenal seseorang atau sesuatu, maka kita tidak memiliki perhatian kepada orang atau hal tersebut. Bagi kita orang Indonesia perlu diakui, bahwa setiap pepatah pasti ada maknanya dan biasanya mengacu pada kata bijak yang bertemakan kehidupan. Dan berbicara mengenai kehidupan, kita harus mengenal lingkungan tempat dimana kita tinggal, karena kesejahteraan kehidupan kita bergantung kepada lingkungan dimana kita berada.

Mengenalkan lingkungan sekitar, termasuk didalamnya Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Gambut adalah salah satu hal penting untuk kita tanamkan kepada semua kalangan masyarakat baik usia dewasa atau anak-anak. Provinsi Sumatera Selatan merupakan salah satu provinsi yang memiliki area gambut yang luas di Indonesia. Provinsi ini kerap kali dihadapkan pada permasalahan lingkungan dan ekosistem, seperti kebakaran hutan dan lahan, yang sebagian terjadi di lahan gambut. Selain itu permasalahan degradasi DAS yang disebabkan oleh erosi, alih guna lahan, budidaya pertanian yang tidak ramah lingkungan, juga membawa pengaruh besar untuk Sumatera Selatan.

Untuk itu Forum DAS Sumatera Selatan bekerjasama dengan ICRAF Indonesia, Dinas Pendidikan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), dan didukung oleh Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan  menginisiasi penyusunan kurikulum pendidikan tentang DAS dan Gambut. Sebagai langkah awal, diselenggarakan Lokakarya Peningkatan Kapasitas dan Pengarusutamaan Kurikulum Pendidikan Lingkungan (DAS dan Gambut), Sebagai Materi Muatan Lokal bagi Siswa Sekolah Dasar. Diselenggarakan selama dua hari, 14-15 Oktober 2021, di Wyndham Hotel Palembang, secara luring dan daring. Kegiatan Lokakarya ini merupakan lanjutan dari kegiatan yang sama yang telah dan dalam pelaksanaan di Kabupaten Banyuasin, beberapa waktu yang lalu.

Usia dini adalah masa yang penting untuk membekali anak dengan pengetahuan dan pembinaan untuk mengembangkan potensi mereka. Usia ini juga optimal dalam menanamkan kesadaran, kepedulian dan membentuk hal-hal positif tentang berbagai hal terkait. Khususnya sikap dan perilaku yang tepat untuk melestarikan lingkungan dan ekosistem. Menumbuhkan pemahaman dan kesadaran tentang DAS dan lahan gambut, perlu dilakukan sejak awal, melalui pendidikan formal di tingkat Sekolah Dasar (SD).

Peserta lokakarya yang hadir berasal dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten OKI, koordinator wilayah, pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, mitra pembangunan, CSO dan media. Bertujuan untuk menyamakan persepsi para pihak tentang program edukasi lingkungan melalui proses penguatan kapasitas dan pengumpulan saran dan ide terkait materi pendidikan DAS dan lahan gambut. Sasarannya adalah membangun kurikulum dan bahan ajar DAS dan gambut yang dapat diintegrasikan kedalam muatan lokal pendidikan di tingkat SD (kelas 4, 5 dan 6).

Dr. Syafrul Yunardy, S.Hut., M.E., selaku Ketua Forum Koordinasi Pengelolaan DAS Sumatera Selatan, dalam sambutannya mengatakan “Kegiatan lokakarya ini untuk membantu percepatan pencapaian visi dan misi Bapak Gubernur Sumsel terkait Sumsel bebas asap; dan mengapa kegiatan terkait lingkungan (DAS dan Gambut) ini salah satunya dilaksanakan di Kabupaten Ogan Komering Ilir? Ini dikarenakan lahan gambut terluas berada di Kabupaten OKI, yang juga memiliki cukup banyak anak-anak sungai dan Sub DAS. Tentunya ada korelasi yang erat dengan masalah ekonomi, sosial, budaya serta penghidupan dan kehidupan masyarakat Kabupaten OKI.”

Tujuan lain pun disampaikan Dr. Syafrul bahwa mengarusutamakan topik-topik lingkungan hidup khususnya DAS dan gambut sesuai dengan kondisi lokal Kabupaten OKI agar menjadi perhatian mulai dari tingkat yang paling bawah dengan masuk di dalam kurikulum pendidikan, sehingga anak-anak akan paham apa peran DAS dan gambut di OKI. Adalah mimpi bersama bahwa anak-anak dapat berperan aktif terlibat dalam menjaga lingkungan di masa depan. Beliau pun menginformasikan bahwa kegiatan yang sama telah dan sedang dilakukan di Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.

Inisiasi kegiatan ini disambut baik oleh Direktur ICRAF Indonesia, Dr Sonya Dewi yang pada kesempatan ini diwakili oleh Feri Johana selaku Koordinator Proyek Peat-IMPACTS, ICRAF Indonesia. Feri Johana menjelaskan bahwa ICRAF Indonesia ikut berperan aktif dan mendukung inisiatif ini dengan bekerjasama secara erat dengan Forum DAS dan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten serta Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten, khususnya Kabupaten OKI dan Banyuasin untuk mendorong pengelolan gambut berkelanjutan di Provinsi Sumatera Selatan.

“Kegiatan ini terkait penguatan kapasitas dan pengarusutamaan di tingkat Sekolah Dasar di Kabupaten OKI. Aspek terpenting terkait tata kelola adalah mendesain aspek Pendidikan di Dalam pengelolaan program, agar dapat menjadi investasi jangka panjang yang jelas keberlanjutannya.” ujar beliau.

Feri Johana pun berharap akan banyak generasi penerus di Sumatera Selatan yang dapat membawa perubahan kedepan. Generasi penerus ini perlu diwarisi dengan pemahaman dan pengetahuan yang relevan sebagai pemegang tongkat estafet pembangunan dimasa depan Provinsi Sumatera Selatan.

  1. Husin S.Pd. MM. M.Pd., selaku Sekretaris Daerah Kabupaten Ogan Komering Ilir, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Pemda Kabupaten OKI berterima kasih telah ditunjuk sebagai salah satu pilot project dan mendukung kegiatan ini; karena lingkungan merupakan isu global dan nasional, sehingga sangat tepat jika masalah lingkungan ini dijadikan salah satu kebijakan muatan kurikulum lokal pendidikan di Kabupaten OKI.

“Dengan adanya kurikulum tentang lingkungan, kita setidaknya memberi pemahaman mengenai upaya untuk memperhatikan dan memelihara lingkungan, dengan aksi peduli lingkungan yang dapat melibatkan siswa, mahasiswa, bahkan para pemuka,” kata Pak Husin.

Semoga hasil kegiatan ini dapat menjadi referensi bagi daerah lain maupun di lingkup nasional, serta dapat berdampak luar biasa yang mempunyai nilai tambah bagi kehidupan masyarakat di Kab. OKI, sehingga karhutla dan banjir dapat terminimalisir ketika DAS dan Gambut dapat terpelihara dengan baik. Harapan besar Pak Husin sekaligus membuka lokakarya ini.

Pemahaman lebih lanjut mengenai DAS dan Gambut dipaparkan pada sesi paparan materi. Yang pertama disampaikan secara rinci oleh Andree Ekadinata S.hut., M.Si., Koordinator Tim Paket Kerja 6-Pengelolaan Pengetahuan, Peat IMPACTS, ICRAF Indonesia, mengenai “Membedah Fungsi dan Peran Penting Gambut bagi Kehidupan dan Penghidupan”. Menjelaskan apa itu gambut dan fungsinya, degradasi gambut, memulihkan gambut, dan mengelola gambut untuk tidak rusak lagi, sekaligus menumbuhkan pemahaman dan kecintaan terhadap gambut.

“Restorasi gambut adalah proses panjang untuk mengembalikan fungsi ekologi lahan gambut dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang terkena dampak dari lahan gambut yang terdegradasi.” tegas Andree.

Beliau juga mengajak seluruh peserta lokakarya untuk menjadi #PahlawanGambut, dengan berpartisipasi memberikan ide dan pemikiran untuk menterjemahkan pengetahuan teknis gambut menjadi bahan ajar yang bisa digunakan di berbagai jenjang pendidikan; ikut serta membangun kurikulum Pendidikan dan bahan ajar, serta menguji dan mencoba kurikulum dan bahan ajar tersebut agar dapat memberikan evaluasi konstruktif untuk perbaikan-perbaikan di masa depan.

Selanjutnya paparan mengenai “Membedah Fungsi dan Peran Penting DAS bagi Kehidupan dan Penghidupan”, yang disampaikan oleh Dr. Sulthani Azis, M.Sc., Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Musi.

Beliau menjelaskan bahwa DAS terdiri dari tiga kesatuan, yaitu bentanglahan, hidrologi dan ekosistem. Ekosistem DAS di wilayah hilir merupakan zona pemanfaatan sumberdaya dengan kerapatan drainase kecil dan bentanglahannya berupa dataran yang berpotensi banjir/tergenang. Dengan pola irigasi dominan dan jenis-jenis vegetasi yang dominan pertanian dan lahan gambut.

“Anak didik kita harus bisa mengetahui manfaat bentanglahan agar dapat mengelola lahan tempat tinggal mereka untuk penghidupan dimasa datang. Karena pada dasarnya manusia adalah agen pengelola lingkungan yang perlu ditanamkan mengenai dasar pemahaman ekosistem DAS dan Gambut. Mengapa, manfaat serta dampak dari pemeliharaan lingkungan, generasi muda perlu terlibat aktif dalam kampanye pelestarian lingkungan di era digital saat ini,” jelas Dr Azis.

Penyampaian kedua materi tersebut dimoderatori oleh Wakil ketua Forum Koordinasi Pengelolaan DAS, Dr. Ir. Karlin Agustina, MSi., yang mengantarkan peserta lokakarya kepada diskusi yang lebih mendalam, mengenai upaya penyusunan kurikulum muatan lokal Pendidikan lingkungan DAS dan Gambut di Kabupaten Ogan Komering Ilir, yang akan dilakukan selama dua hari ini.

Lewat kegiatan ini diharapkan tercipta dukungan dari instansi terkait dan terbentuknya tim gugus tugas penyusunan draft kurikulum dan bahan ajar pendidikan lingkungan, DAS dan gambut Kabupaten OKI. Dengan begitu generasi muda Sumatera Selatan akan memiliki fondasi untuk menjaga lingkungannya secara berkelanjutan dari berbagai faktor penyebab kerusakan lingkungan.